31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Jejak Teguh dan Peka Muria Menjaga Nafas Lereng Muria

BETANEWS.ID, KUDUS – Teguh Budi Wiyono adalah salah satu penjaga lingkungan di lereng Pegunungan Muria. Kegelisahan akan sumber mata air yang menyusut dan hutan gundul, membuatnya bergerak ikhlas mencintai alam.

Pada tahun 2012 silam ia mulai melakukan aksinya dengan memanggul bibit pohon dari bawah menapaki jalur curam, menempuh jalur longsoran, dan menanam sendiri bibit pohon di titik-titik kritis Muria. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk mengembalikan sumber mata air dan lingkungan gunung yang kembali asri.

Baca Juga: Jalan ‘Jihad’ Chef Isman, Jadi Agen Kudus Asik Kampanyekan Pilah Sampah Melalui Konten

-Advertisement-

“Waktu itu kurang lebih ada 12 orang termasuk saya berinisiatif untuk kembali menanam pohon di blok Goa Jepang. Tidak mudah memang, karena harus mendaki dengan membawa bibit pohon dengan jalur yang curam,” katanya belum lama ini.

Tapi niat itu ia lakukan demi untuk menjaga agar lingkungan di kawasan Pegunungan Muria tetap asri. Walaupun bibit dibeli dengan kocek pribadi, namun semangat menanam pohon tetap dilakukan dengan tenaga yang masih mereka punya.

“Tahun demi tahun beberapa tanaman yang kami tanam berhasil hidup, meski ada pula yang mati. Dalam tiga tahun yang sudah kita tanam dari biaya pribadi sekitar ada sebanyak 150 bibit pohon, bisa hidup sekitar 50 pohon,” ungkapnya.

Setalah tiga tahun fokus pada penanaman di area bekas kebakaran, inisiatif yang dilakukannya mulai vakum. Hal itu dikarenakan lokasi penanaman yang menurutnya sudah tak dapat ia jangkau lagi. 

“Kami sudah melakukan sesuai dengan kemampuan kami. Lokasi yang menanjak ektrem dan tak mampu kita lewati, karena harus membawa bibit dari bawah mendaki hingga lokasi penanaman. Menurut kami itu sudah cukup, karena lokasi yang sudah tidak dapat kami tempuh lagi,” jelasnya. 

Kemudian pada 2015, Teguh bergabung dengan komunitas Perkumpulan Masyarakat Pelindung hutan (PMPH) Muria, yang aktif dalam pelestarian lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan visi dia untuk menjaga alam sekitar tetap lestari. 

“Lalu lanjut 2015 ikut gabung dengan PMPH. Fokus jenis pohon yang ditanam adalah jenis Kaliandra dan Ramayana, sebagai tanaman perintis,” katanya. 

Perjalanannya dalam kelestarian alam tidak selalu mulus. Tahun 2021 komunitas PMPH sempat vakum karena ketua yang menjadi panutan bagi anggota berpulang ke hadapan tuhan. Justru dengan petuah yang sering disampaikan oleh ketua PMPH dulunya, membakar semangatnya untuk terus aktif dalam menjaga lingkungan. 

Dengan kelompok kecil yang awalnya beranggotakan hanya tujuh orang, komunitas Pegiat Konservasi Alam (Peka) Muria didirikan pada 2023. Ditunjuk sebagai Ketua Peka Muria, Teguh membawa visi: “membuat Muria kembali hijau dan menjaga sumber air untuk generasi mendatang”.

“Bertahan itu tidak mudah. Tapi ketika kami melihat pohon-pohon kecil itu tumbuh, kami tahu perjuangan ini tidak sia-sia. Maka dari itu, hingga kini pelestarian alam tetap kami jalankan,” sebutnya. 

Bahkan sejak berdirinya Peka Muria menjadi titik balik. Komunitas konservasi alam tersebut mendapat dukungan dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui suplai bibit yang mereka inginkan. Yakni ficus dan bambu menjadi fokus utama penanaman. 

Di tahun pertama, Peka Muria mendapat suplai sekitar 300-400 bibit pohon, kemudian 2024 mereka mendapat 1.000 bibit, dan tahun ini mendapat suplai 1.500 bibit. Meski begitu, mereka hingga saat ini sudah menanam sekitar 2.300 bibit pohon, termasuk 390 bambu dan 700 ficus yang ditanam pada tahun ini.

“Jenis bibit pohon yang kami fokus tanam adalah ficus dan bambu. Ficus berfungsi menahan air lebih lama dan mencegah longsor, sementara bambu untuk memfiltrasi air agar lebih jernih,” jelasnya.

Sementara itu, titik-titik penanaman yang difokuskan adalah titik kritis di Pegunungan Muria. Menurutnya, saat ini pihaknya memfokuskan terlebih dahulu wilayah Kabupaten Kudus, di antaranya meliputi Rejenu, Goa Jepang, Glagah Arjuna, bawah Argopiloso (bekas kebakaran), hingga hulu Air Terjun Montel.

Berdasarkan pengamatannya per Maret 2025, tingkat keberhasilan tanaman yang sudah dilakukan penanaman mampu hidup hingga 60 persen. Angka tersebut cukup tinggi untuk wilayah pegunungan dengan akses sulit.

Baca Juga: Deffa Aurelia, Model Menawan dari Kudus yang Juga Pegawai Bank

Bagi Teguh, konservasi tidak mengenal batas administratif. Setelah fokus di daerah Colo, Rahtawu, Ternadi, dan Japan, pihaknya berupaya memperluas titik penanaman ke sisi timur dan barat gunung, yakni menyentuh wilayah Jepara dan Pati. 

Tak hanya mengandalkan anggota yang kini berjumlah 18 orang, pihak komunitas juga menggandeng para mahasiswa, baik UIN Sunan Kudus maupun UMK, agar kegiatan positif itu dapat ditiru. Lebih-lebih generasi muda sekarnag lebih aktif dalam pelestarian lingkungan. 

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER