BETANEWS.ID, KUDUS – Sampah dalam beberapa tahun terakhir menjadi persoalan yang cukup serius di Kabupaten Kudus. Jumlahnya yang terus meningkat menjadikan TPA Tanjungrejo overload. Sampah yang tidak dikelola dengan baik, jadi salah satu sebab bencana banjir musiman di Kota Kretek.
Hal tersebut menggerakkan hati Isman Fajar Ridhwansah (31) untuk terlibat dalam gerakan peduli lingkungan. Alumni peserta program televisi masterchef seasion 7 kemudian memutuskan untuk bergabung menjadi agen Kudus Asik (Apik dan Resik). Gerakan yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) tersebut berfokus pada pengelolaan sampah organik di Kudus.
Baca Juga: Kisah Sukarman, Kakek 70 Tahun yang Tak Kenal Letih Berjualan Aneka Jajan di Kudus
“Saya jadi agen Kudus Asik sejak September tahun 2022. Alasannya, karena ingin jadi bagian penyelamat kota kelahiran saya dari persoalan sampah dan dampaknya” ujarnya.
Ditemui di rumahnya yang berada di Desa Golantepus RT 5 RW 3, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Isman menyampaikan, bahwa persoalan sampah di Kota Kretek memang cukup pelik. Banyak warga yang membuang sampah sembarangan, baik di sungai maupun di lahan-lahan kosong.
“Saya pernah ke Taman Balai Jagong Kudus dan mendapati sampah berserakan. Selain itu, di sudut tertentu terdapat tumpukan bungkusan sampah yang cukup banyak. Ketika saya buka, di dalamnya adalah sampah organik,” bebernya.
Melihat kenyataan tersebut, Isman pun prihatin. Jika tidak ada gerakan nyata, kota kelahirannya akan terkotori oleh sampah. Oleh karena itu ketika diajak kerja sama oleh BLDF sebagai agen Kudus Asik, ia pun langsung menerimanya.
Tugasnya sebagai agen Kudus Asik yakni mengedukasi warga Kudus untuk memilah sampah rumah tangga. Profesinya yang seorang chef, memudahkan Isman menyelipkan edukasi pengelolaan dan pemilahan sampah dapur bagi para pengikutnya melalui konten memasak yang diunggah di akun instagram pribadinya yakni ismanmci7.
“Sejak bergabung dengan Kudus Asik pada tahun 2022, saya sudah memproduksi sekira 150 konten edukasi pengelolaan sampah. Harapannya tentu agar para follower saya ikut memilah sampah, antara yang organik dan non organik di rumah mereka,” sebutnya.
Selain itu, ia juga membuat konten tentang menu dengan bahan sisa masakan yang masih bisa terpakai. Contohnya, sisa potongan sayuran atau bumbu bisa diolah menjadi minyak bawang atau kuah kaldu sup.
“Selain bermanfaat, hal itu juga mampu mengurangi sampah organik di rumah,” bebernya.
Pria yang sudah memiliki 16,9 ribu pengikut di instagram tersebut menuturkan, pentingnya gerakan memilah sampah organik dan non-organik di tingkat rumah tangga. Ketika sudah terpilah, 50 persen persoalan sampah sudah terselesaikan.
“Sampah non organik yang masih punya nilai ekonomi bisa dikumpulkan untuk dijual atau dibuat kerajinan. Sementara sampah organiknya bisa kerja sama dengan Kudus Asik agar sampah tersebut diambil dan diolah jadi kompos,” ungkapnya.
Isman juga mengingatkan bahaya sampah organik bagi keluarga dan lingkungan. Karena menurutnya, sampah organik yang tak terkelola dengan baik, keberadaannya akan mencemari lingkungan dan bisa jadi sumber penyakit.
“Sampah organik itu cepat busuk menimbulkan bau tak sedap sehingga menggangu serta mencemari lingkungan. Sampah organik juga disenangi lalat dan ini bisa jadi biang penyakit bagi warga sekitar,” bebernya.
Isman mengaku, kontennya tentang pengelolaan sampah dapur cukup mendapatkan respon positif dari para followernya. Meski ada juga yang nyiyir, tetapi ia tak perduli. Karena baginya edukasi kebersihan lingkungan adalah bagian dari jihad.
“Semoga ke depan warga Kudus makin peduli terhadap kebersihan lingkungan. Dan, Saya melalui konten akan terus mengedukasi mereka untuk memilah sampah sejak dari dapur,” imbuhnya.
Sebagai informasi, Kudus Asik merupakan gerakan yang digagas oleh BLDF sejak tahun 2018. Gerakan ini fokus untuk penanganan sampah organik di Kabupaten Kudus yang merupakan tanah kelahiran sekaligus rumah PT Djarum.
Hingga saat ini Gerakan Kudus Asik sudah mempunyai 400 mitra, terdiri dari restoran, hotel, instansi pemerintah, warga dan lain sebagainya. Para mitra tersebut telah melakukan pilah sampah antara sampah organik dan non organik.
Sampah organik milik mitra tersebut kemudian diambil oleh tim Kudus Asik untuk dibawa ke Pusat Pengolahan Organik (PPO) di Oasis Kretek Factory untuk diolah jadi humisoil atau kompos. Dalam sehari minimal 50 ton sampah organik yang diolah jadi kompos.
Baca Juga: Sosok Alisya Sering Torehkan Prestasi, Jadikan Sukun Youth Series Ajang Menambah Jam Terbang
Data dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus pada tahun 2025, setiap hari kurang lebih ada 170 ton sampah yang dibuang ke TPA Tanjungrejo. Dari jumlah tersebut 70 persennya adalah sampah organik.
Dengan mampu mengolah sampah organik minimal 50 ton sehari, gerakan Kudus Asik cukup membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus dalam menangani persoalan sampah. Apalagi, TPA Tanjungrejo juga sudah dinyatakan overload.
Editor: Haikal Rosyada

