BETANEWS.ID, KUDUS – Matahari siang mulai condong ke barat. Asap tipis mengepul dari wajan kecil di tepi jalan, tepatnya depan MAN 1 Kudus, tercium aroma manis pisang cokelat yang menggoda.
Di balik gerobak sederhana berwarna merah dan kuning, tampak seorang kakek-kakek yang tangannya masih terampil membolak-balik adonan di minyak panas. Dia tak lain adalah Sukarman (70), penjual jajanan yang akrab disapa Pak Man.
Baca Juga: Kisah Frisca, Penjual Donat Kukus Lumer yang Jadi Primadona Baru di Tayu
Di sela kesibukannya menggoreng dagangannya, Sukarman menuturkan kisah hidupnya. Sebelum berjualan, ia pernah bekerja di produsen tenteng.
“Tapi karena sudah nggak kuat lagi, saya cari pekerjaan yang modalnya sedikit dan tenaganya nggak terlalu berat. Ya akhirnya jualan jajanan ini,” terangnya.
Usaha kecilnya yang diberi nama “Aneka Jajan Pak Man” sudah berjalan sejak tahun 2022. Ia menjual aneka jajan, mulai dari cilor, cireng, maklor, hingga piscok. Semua menu ia jual dengan harga satuan seribu rupiah.
Pak Man mulai berjualan setiap hari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Dari sekian jajanan yang ia goreng, piscok dan cireng jadi favorit para pembeli.
“Terutama para siswa dan mahasiswa yang sering mampir setiap sore, kebanyakan belinya itu piscok dan cireng,” bebernya.
Baca Juga: Kisah Dua Sahabat Penjual Jajan Tradisional di Pati, Omzet Hariannya Capai Rp500 Ribu
Biasanya, Pak Man berjualan di dua lokasi, untuk hari Senin hingga Kamis, ia jualan di depan Kampus UIN Kudus. Sedangkan hari Jumat hingga Minggu, Pak Man mankal di depan MAN 1, Kudus.
“Alhamdulillah hasilnya bisa saya buat hidup sehari-hari. Selagi bisa mandiri, saya tidak ingin merepotkan,” tambahnya saat ditemui di depan MAN 1 Kudus, Ngembalrejo, Bae, Kudus.
Penulis: Muhammad Amaruddin, Mahasiswa PPL PBSI UMK
Editor: Haikal Rosyada

