31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Perputaran Tempat Tidur di RSUD Loekmono Hadi Kudus Terganggu Karena Mitos

BETANEWS.ID, KUDUS – Mayoritas warga Kabupaten Kudus masih kuat kepercayaannya terhadap mitos akan hari baik dan buruk. Ironinya, hal tersebut berdampak terganggunya perputaran tempat tidur di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi.

Warga Kudus percaya bahwa hari Selasa dan Sabtu dianggap kurang membawa keberuntungan atau malah pembawa sial. Sehingga, banyak pasien yang sudah dinyatakan sembuh justru menolak pulang jika hari kepulangannya dari rumah sakit jatuh pada Selasa atau Sabtu.

Baca Juga: Ada Kudus Fashion Week, Gelaran CFN Bulan November Kembali Diundur

-Advertisement-

Hal tersebut diungkap oleh Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus, dr. Abdul Hakam. Alasan mereka masih mempercayai mitos Jawa tersebut, karena menganggap pasien yang pulang di dua hari tersebut akan kembali masuk rumah sakit.

“Kepercayaan itu masih cukup kuat di sebagian masyarakat Kudus. Bahkan, tradisi ini berdampak pada terganggunya perputaran tempat tidur untuk pasien RSUD Loekmono Hadi Kudus,” ujar Hakam kepada awak media, belum lama ini.

Biasanya, lanjut Hakam, pasien yang sudah sembuh tapi hari pulangnya Selasa atau Sabtu memilih menunggu sampai malam. Mereka baru pulang setelah Magrib karena percaya secara perhitungan Jawa, hari sudah berganti.

Menurut Hakam, kebiasaan tersebut turut membuat kamar transit pasien menjadi padat. Pasien yang menunggu ruang rawat inap atau IGD terpaksa menunggu lebih lama karena tempat tidur belum bisa digunakan oleh pasien baru.

“Perputaran tempat tidur jadi terhambat. Meskipun hanya tertunda beberapa jam, dampaknya cukup terasa karena pasien di ruang transit bisa mencapai 30 orang per hari,” jelasnya.

RSUD Loekmono Hadi Kudus kini memberlakukan kamar transit khusus untuk menampung pasien sementara. Langkah ini dilakukan karena IGD selalu penuh dan hanya diperuntukkan bagi pasien gawat darurat. Pasien dari kamar transit baru bisa dipindah ke IGD jika ada ruang kosong.

“Lonjakan pasien luar biasa. Jadi IGD fokus untuk yang darurat saja. Pasien lain kami tampung dulu di kamar transit,” kata Hakam.

Ia menjelaskan, secara rata-rata Bed Occupancy Rate (BOR) atau tingkat keterisian tempat tidur di RSUD Kudus sudah mencapai 80–85 persen, artinya rumah sakit nyaris penuh setiap harinya. Namun, angka itu sering disalahartikan masyarakat seolah masih ada ruang kosong.

“Memang terlihat masih ada 20 persen tempat tidur yang kosong, tapi itu tidak bisa diisi semua karena ruangan punya peruntukan tertentu,” ujarnya.

Sebagai contoh, Hakam menyebut ruang Melati hanya boleh digunakan untuk pasien TBC, sementara ruang bersalin hanya untuk pasien melahirkan. Begitu juga ICU, yang hanya untuk pasien dengan kondisi kritis tertentu. Karena itu, tidak semua tempat tidur bisa digunakan secara fleksibel.

“Pasien dengan penyakit lain kan tidak bisa dirawat di ruang melati yang khusus untuk pasien TBC. Begitu juga di ruang bersalin, kan khusus digunakan untuk pasien yang akan melahirkan. Jadi sebenarnya semua ruang sudah terpakai sesuai peruntukannya,” terang Hakam.

Baca Juga: Sebelum Sampai ke Siswa, Menu MBG SPPG Polres Kudus Dicek Dokter

Hakam mengungkapkan, saat ini RSUD Loekmono Hadi sedang membangun gedung IGD baru dengan kapasitas 40 tempat tidur. Dia berharap, IGD baru bisa segera jadi agar bisa menampung lebih banyak pasien gawat darurat.

“Gedung IGD baru nanti punya kapasitas 40 tempat tidur. Jumlah tersebut dua kali lipat dibanding tempat tidur IGD yang sekarang ini,” sebutnya. 

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER