BETANEWS.ID, JEPARA – Sejak pagi, puluhan Ibu Rumah Tangga (IRT) di desa sekitar Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara datang ke kediaman Siti Kunsururoh (43) di Desa Dongos RT 3 RW 4, Kecamatan Kedung.
Dengun penuh semangat, mereka mengolah ratusan kilogram singkong markonah menjadi keripik singkong siap jual dan siap makan. Sebelum diolah, singkong markonah yang memiliki kandungan racun dan bercita rasa pahit, dikupas kemudian dicuci bersih.
Baca Juga: Pernah Rugi Ratusan Juta Rupiah, Purnomo Kini Sukses Geluti Budidaya Jamur, Hasilkan 100 Kg per Hari
Singkong kemudian dipotong tipis menggunakan alat khusus, lalu direndam dengan air selama 2 hari 2 malam. Perendaman itu berfungsi untuk menghilangkan racun serta rasa pahit.
Setelah direndam, singkong direbus menggunakan tungku kayu hingga warnanya berubah menjadi bening. Potongan singkong kemudian ditata dalam tampah berbahan bambu untuk selanjutnya dijemur di bawah terik matahari.
Dalam sehari, industri keripik singkong rumahan bernama Keripik Singkong 57 Jaya milik Siti Kunsururoh itu mampu memproduksi satu kwintal atau 100 kg keripik singkong per hari.
Siti Kunsururoh bercerita, industri skala rumahan itu ia rintis bersama suaminya, Suparno sekitar 20 tahun yang lalu.
“Sudah 20 tahun, dulu ngerintis sendiri sama suami. Belajar sendiri, tanya sama orang-orang tua, karena di Dongos ini kan memang banyak yang produksi kripik singkong,” ujar Siti pada Betanews.id, Sabtu (25/10/2025).
Selain memproduksi sendiri, Siti yang juga menjual keripik singkong siap makan juga menerima keripik singkong mentah buatan para tetangganya.
Untuk keripik singkong mentah, ia jual dengan harga Rp15 ribu per kg, sementara yang siap makan ia jual dengan harga Rp35 ribu per kg.
“Kemasan kecil juga ada, Rp6 ribu per bungkus, itu dari 1 kg saya jadikan 7 kemasan,” kata Siti.
Dari penjualan kripik singkong, dalam sehari Siti biasanya mampu mendapat laba bersih sekitar Rp200-300 ribu per hari.
Laba itu berasal dari modal yang setiap harinya ia putarkan untuk membeli bahan baku serta operasional sebesar Rp10 juta.
Untuk membeli bahan baku, Siti membutuhkan modal sebesar Rp1 juta per hari. Modal itu ia gunakan untuk membeli 500 kg atau 20 karung singkong markonah, dengan harga Rp50 ribu per karung.
“Kendalanya ini dimodal, untuk bisa produksi butuh modalnya paling ngga Rp10 juta. Pernah ngajakan KUR (Kredit Usaha Rakyat) tapi ditolak,” ungkap Siti.
Siti mengaku, membutuhkan bantuan modal sebab usaha yang ia rintis secara mandiri itu, tidak hanya menjadi tumpuan ekonomi bagi keluarganya. Tetapi juga bagi 20 karyawannya yang semuanya merupakan ibu rumah tangga dan sudah menjadi janda.
Baca Juga: Bamantara Guppy Farm, Hobi yang Berubah Jadi Sumber Rezeki
Mereka tidak hanya berasal dari Desa Dongos, tetapi juga dari desa sekitar yaitu Desa Troso, Desa Menganti, Desa Sowan, dan Desa Petekeyan.
“Karyawan ada 20, semuanya ibu-ibu, janda semua dan kebanyakan sudah lansia. Produksinya setiap hari, karena kalau ngga produksi kasian karyawan, mereka mengendalkan kebutuhan sehari-hari dari kerja di tempat saya,” beber Siti.
Editor: Haikal Rosyada

