BETANEWS.ID, PATI – Aroma amis ikan segar dan aroma khas ikan asap sangat terasa ketika memasuki area salah satu rumah produksi pengolahan ikan di Desa Doropayung, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Asap terlihat mengepul dari cerobong tempat tersebut, menandakan sedang berlangsung proses pemanggangan ikan.
Di salah satu sudut rumah berdinding kayu dan beratap asbes tersebut, tampak terpasang sebuah para-para. Ada bara api yang masih menyala di bawahnya. Di atas para-para itu tersusun puluhan ekor ikan yang tengah diasapi.

Sementara di bagian, tampak seorang pemuda sedang mengawasi beberapa pekerja yang sedang memproduksi ikan asap. Dia adalah Dwi Angga (24), pengelola dari usaha tersebut.
Baca juga : Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan
“Di sini ada banyak jenis ikan yang diolah. Mulai dari manyung, pari, jahan, keropak dan sejenisnya. Kalau pengolahan mulai dari ikan yang sudah dibersihkan terus dipotong. Pemotongan itu nanti yang daging sama yang kepala di bedakan. Setelah itu ditusuk pakai bilah kayu kecil-kecil. Terus ditaruh dibesi panggangan untuk selanjutnya diasapi,” papar Dwi Angga, Senin (20/4/2020).
Menurutnya, proses pengasapan ikan sendiri memiliki durasi waktu yang berbeda. Yakni untuk kepala ikan membutuhkan waktu sekitar 15 menit dan untuk daging biasanya hanya butuh waktu 5 menit. Akan tetapi, durasi tersebut juga bergantung pada kualitas api yang bersumber dari bara batok kelapa. Dikatakan Dwi, bisa lebih cepat sekaligus bisa lebih lama. Oleh karena itu, kualitas bara di tungku terus dijaga oleh dua orang pegawai lelaki untuk mengontrol tingkat kematangan ikan.
“Nah, setelah diasapi biasanya ditunggu agak dingin. Jadi dibiarkan dulu di atas besi pemanggang, sambil diangini sama kipas angin. Kalau sudah, nanti siap di packing,” papar dia.
Baca juga : Bisnis Rebana Sunarwi Punya Pelanggan Hingga Luar Jawa
Dwi Angga mengatakan, jika bisnis yang sudah digeluti oleh keluarganya selama hampir 20 tahun tersebut, kini memiliki beberapa pelanggan tetap. Seperti rumah-rumah makan di Kota Yogyakarta dan Kota Semarang. Oleh karena itu, di tempatnya selalu ada produksi tiap hari bahkan saat hari Minggu. Untuk bahan baku, ia mengaku membeli langsung dari nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana setiap harinya, guna menjaga kualitas produksi. Selain itu, ia juga telah memiliki kapal langganan yang hasil dari penangkapannya langsung menjadi bahan baku di tempatnya.
“Kami kebetulan sudah ada pelanggan tetap yang setiap hari kami setor, jadi tiap hari ada produksi. Kira-kira per hari ya bisa produksi daging ikan asap 2 kuintal sama kepala sampai 5 kuintal,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

