31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Aplikasi Kencan Khusus Homoseks Picu Kekhawatiran Penularan HIV/AIDS di Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Di era digital saat ini, kemajuan teknologi turut dimanfaatkan oleh berbagai kalangan untuk membangun koneksi, termasuk oleh komunitas homoseksual di Kabupaten Kudus. Mereka kini tidak lagi hanya mengandalkan titik kumpul atau hotspot tertentu untuk bertemu, tetapi juga telah beralih menggunakan berbagai aplikasi kencan berbasis daring.

Hal ini diungkapkan oleh Manajer Penanggulangan Kasus HIV/AIDS Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kudus, Eni Mardiyanti. Menurutnya, kemudahan akses terhadap aplikasi kencan berbasis orientasi seksual ini telah menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pendampingan dan pencegahan penularan HIV/AIDS.

Baca Juga: Kantongi Izin Sewa PT KAI, Eks Stasiun Kudus Siap Disulap Jadi Sentra UMKM

-Advertisement-

“Setidaknya ada tiga aplikasi yang diketahui cukup populer di kalangan homoseksual di Kudus, yakni Wala, Tinder, dan Hornet,” ujar Eni saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.

Eni menjelaskan bahwa aplikasi-aplikasi tersebut digunakan untuk berinteraksi, berkenalan, bahkan dalam beberapa kasus mengarah pada pertemuan fisik atau kencan. Ia menyayangkan, aplikasi tersebut bisa diakses secara bebas tanpa pengawasan, sehingga berpotensi meningkatkan aktivitas seksual berisiko tanpa pengendalian.

“Banyak dari mereka yang memasang foto, nomor kontak, bahkan mencantumkan tarif untuk pertemuan tertentu. Transaksinya dilakukan langsung melalui aplikasi, dan pertemuan biasanya disepakati secara pribadi (COD),” jelasnya.

Ia menambahkan, praktik hubungan sesama jenis, khususnya laki-laki dengan laki-laki (LsL), tergolong aktivitas seksual berisiko tinggi, terutama karena dilakukan melalui penetrasi anal. Berdasarkan data yang dimiliki KPA Kudus, kelompok LsL merupakan salah satu penyumbang tertinggi kasus HIV/AIDS di Kota Kretek.

“Perlu ditegaskan bahwa tidak semua interaksi di aplikasi itu berujung pada penularan HIV/AIDS. Namun, risiko tetap ada. Oleh karena itu, edukasi mengenai perilaku seks aman, termasuk penggunaan kondom, menjadi sangat penting,” terang Eni.

Dengan munculnya fenomena pergeseran dari pertemuan fisik ke interaksi berbasis aplikasi, KPA Kudus menghadapi tantangan baru. Jika sebelumnya mereka dapat melakukan pendekatan di hotspot-hotspot tertentu, kini aktivitas tersebut cenderung bersifat pribadi dan tertutup, sehingga lebih sulit dijangkau.

“Pendampingan jadi lebih sulit karena kami tidak tahu lagi di mana mereka bertemu. Aktivitas mereka tidak terpantau seperti dulu. Ini menghambat upaya pengawasan dan edukasi dari kami,” ungkapnya.

Ia pun mendorong agar pemerintah lebih proaktif, termasuk mempertimbangkan pemblokiran atau pengawasan terhadap aplikasi-aplikasi kencan yang secara khusus digunakan untuk tujuan seksual berisiko.

“Kami berharap ada langkah dari pemerintah untuk mengendalikan akses terhadap aplikasi-aplikasi tersebut, atau minimal ada sistem filter agar tidak disalahgunakan,” tegasnya.

Baca Juga: Bupati Kudus Dorong Kemitraan UMKM dan UMB, Soroti Tata Kelola hingga Pajak

KPA Kudus, lanjut Eni, terus berupaya memberikan edukasi dan pendampingan kepada kelompok berisiko, termasuk komunitas LsL, dengan tujuan menekan laju penyebaran HIV/AIDS di daerah.

“Pemahaman bahwa seks berisiko tetap bisa dilakukan secara aman jika menggunakan kondom, itu yang harus terus kami sampaikan. Tantangannya, ketika mereka beralih ke aplikasi, akses kami jadi terbatas,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER