Kabupaten Kudus memang dikenal sebagai Kota Kretek karena sejarah panjang tentang industri rokok kreteknya. Namun, pesona Kudus tidak hanya terletak pada industri rokok, tetapi juga pada kekayaan kuliner yang menggoda selera. Salah satunya adalah nasi pindang kerbau yang ada di warung makan H Sulichan. Warung ini berada di area Pusat Kuliner Taman Bojana Kudus.
Di warung tersebut, tampak dua orang pemuda dan seorang pria paruh baya tengah menyiapkan pesanan para pembeli. Ada yang menuangkan kuah pindang, mengambil nasi yang diberi irisan daging kerbau.
Pria paruh baya itu yakni Musyafak (53), pemilik warung H Sulichan. Kepada Betanews.id, ia mengaku bahwa dirinya merupakan generasi kedua warung yang sudah berdiri sejak tahun 1968 itu.
Baca juga: Nikmatnya Soto Kerbau Bu Marni, Berhasil Pikat Pelanggan Hingga Tiga Generasi
Musyafak menjelaskan, masakan pindang Kudus berisi irisan daging kerbau dengan kuah berwarna kecoklatan dan mempunyai rasa sedikit manis. Menurutnya, pindang Kudus hampir mirip dengan rawon karena menggunakan kluwek sebagai bumbu, dan nasi gandul, makanan khas Pati.

“Meski mirip, namun ketiganya memiliki perbedaan. Kalau nasi gandul dan rawon tidak pakai laos dan penyajiannya tanpa daun melinjo. Nasi gandul juga pakai daging sapi, sedangkan rawon pakai tauge,” ucap Musyafak saat ditemui pada Senin, (22/07/2024).
Hal menarik dari pindang kerbau di warung H Sulichan adalah masih menggunakan alat-alat tradisional untuk memasaknya. Musyafak mengaku masih menggunakan kayu bakar saat memasak pindang kerbau di rumahnya. Sedangkan saat di warung, ia menggunakan arang sebagai pengganti gas.
“Untuk menghaluskan bumbu saya menggunakan alu untuk menumbuknya. Bumbu untuk membuat pindang kerbau khas Kudus adalah bawang merah, bawang putih, garam, kluwak, laos, kemiri dan tentunya daging kerbau,” ungkap pria berkacamata itu.
Baca juga: Lentog Tanjung Pak Warsito, Warung Kuliner Khas Kudus yang Tak Pernah Sepi Pembeli
Musyafak biasanya mulai berjualan pukul 7.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Satu porsi nasi pindang kerbau di warung H Sulichan dijual dengan harga Rp 20 ribu.
Dia menambahkan, pembeli yang biasa makan di sana tidak hanya warga Kudus saja. Bahkan, kata Musyafak, pembeli yang datang ke sana mayoritas berasal dari luar Kudus.
“Ada yang dari Semarang, Jepara, Demak, Pati, dan daerah lainnya. Bahkan, ada yang sudah jadi langganan, karena katanya enak, daging kerbaunya empuk,” bebernya. (Ella Kartika Sari – PPL IAIN Kudus)
Editor: Ahmad Rosyidi dan Suwoko

