Di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, terdapat paguyuban gula tumbu yang terdiri dari 125 pengusaha. Namun, persaingan pasar dan tantangan pemasaran menjadi kendala utama yang membuat sejumlah pengusaha tersebut kini sudah tidak lagi berproduksi.
Produksi gula tumbu di Desa Kandangmas berlangsung selama delapan bulan, mulai dari Maret hingga November, dengan rata-rata produksi per pengusaha mencapai 5 kuintal per hari. Meski banyak pengusaha gula tumbu yang sudah tidak aktif, dalam satu musim panen atau satu tahun, total produksi gula tumbu di Desa Kandangmas masih bisa mencapai 140 ton gula tumbu.
Meski banyak sekali penurunan dalam skala produksi, gula tumbu tetaplah menjadi ikon bagi Desa Kandangmas. Terbukti dengan pabrik-pabrik yang masih mengepulkan cerobong asapnya hingga kini, itu artinya masih banyak permintaan produksi gula tumbu di desa ini.
Baca: Dilema Gula Tumbu Kandangmas, Menjaga Tradisi di Tengah Krisis Bahan Baku (2)
Di Dukuh Sekandang Tempel, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Siswanto (44) membuktikan bahwa semangat inovasi bisa mengubah tantangan menjadi peluang. Ia adalah pengusaha kolak telo godang, produk khas berbahan dasar singkong dan tebu, yang kini dikenal luas hingga luar Kudus.
Siswanto memulai perjalanan usahanya pada 2019, saat harga gula merah yang ia produksi mengalami penurunan drastis. Ketika banyak pengusaha memilih menyerah, ia justru mencoba hal baru dengan memproduksi kolak telo godang.
“Awalnya cuma coba-coba, minggu pertama hanya laku dua sampai tiga karung. Tapi ternyata banyak yang suka, penjualannya langsung meningkat jadi 10-15 karung per minggu,” ungkapnya.