BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria paruh baya tampak melayani pembeli di Jalan Raya Pati-Kudus, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus, atau depan Ganesha Operation. Pria bernama Suparno (62), itu terlihat sedang membuat es cincau yang akan dibungkus oleh pembeli.
Setelah melayani pembeli itu, ia tampak langsung berkemas-kemas karena dagangannya sudah habis. Supar memang selalu pulang cepat karena dagangannya laris manis. Setiap harinnya dia berdagang mulai pukul 9.00-13.00 WIB.

“Bisa dikatakan setiap hari saya jualan, asal tidak sedang sakit atau ada acara. Saya bawa tidak banyak, sekitar 40 porsi saja. Harga per porsinya ini Rp3.000,” ungkapnya, pekan lalu.
Baca juga: Es Teller 99, Jujugan Orang-Orang yang Cari Kesegaran di Jepara
Dengan membawa sepeda motor dan gerobak berwarna hijau bertuliskan Es Cincau Hijau Idolaku, Supar mengaku tidak pernah berpindah-pindah lokasi. Hal itu agar pelanggan tidak kesulitan ketika ingin membeli.
“Saya menetap di sini biar pelanggan juga tidak bingung. Takutnya kalau pindah-pindah pelanggan bingung,” ucapnya.
Supar mulai berjualan es cincau pada September 2023 lalu. Meski terbilang baru, pelanggannya sudah cukup banyak.
Cincau yang dia jual merupakan buatan warga asli Bandung. Supar juga membeberkan, bahwa cincau tersebut dibuat dari daun cincau yang dipetik dari pohonnya, kemudian diblender dan direbus hingga jadi cincau. Dalam penyajiannya, cincau itu diberi kuah santan dan pemanis yang terbuat dari gula aren asli.
Baca juga: Berkah Kemarau, Penjual Es Teler Ini Bisa Raup Omzet hingga Rp700 Ribu Sehari
“Jujur saja, cincau yang saya dapatkan ini berasal dari orang Bandung yang tinggal di sekitar sini. Saya beli cincaunya sekitar satu toples. Untuk air, saya pakai air santan dan menggunakan gula aren Jawa,” bebernya.
Supar menambahkan, setelah pulang siang hari, sorenya dia akan kembali lagi untuk berjualan minuman dan makanan ringan.
“Sorenya saya ke sini lagi, tapi dagangannya sudah bukan es cincau. Tapi, ya, makanan ringan, seperti mie gelas gitu lah,” tambah Supar.
Penulis: Vera Melinda, Mahasiswa Magang UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

