Jejak Percetakan Tertua di Kudus, dari Rumah Sederhana hingga Lahirkan Ratusan Judul Kitab

BETANEWS.ID, KUDUS – Konsistensi selama puluhan tahun membuat Percetakan Menara Kudus tetap bertahan sebagai salah satu percetakan kitab dan Alquran tertua di Kabupaten Kudus. Berdiri sejak 1955, usianya kini telah menembus lebih dari tujuh dekade.

Manajer Personalia, Alexander Yusuf menuturkan, percetakan ini didirikan oleh H Zaenuri Noor yang memulai usaha dari rumahnya di Jalan Kiai Telingsing Nomor 12. Pada masa awal berdiri, percetakan belum langsung mencetak Alquran, melainkan fokus pada kitab-kitab pembelajaran untuk pondok pesantren dan madrasah.

“Dulu produksi masih dilakukan dari gudang rumah pendiri. Awalnya hanya mencetak kitab saja,” katanya.

-Advertisement-

Perkembangan usaha kemudian mendorong perluasan lokasi. Pada 1960, percetakan membuka tempat baru di kawasan Menara Kudus. Selanjutnya pada 1970 mulai mencetak Alquran sekaligus menambah fasilitas produksi di Jalan HM Subchan. Seluruh aktivitas percetakan akhirnya dipusatkan di Desa Bakalankrapyak sejak 1984.

Alex menjelaskan, pada masa awal berdiri, tantangan terbesar adalah pemasaran. Saat itu, hubungan dengan para kiai menjadi faktor penting untuk memperkenalkan produk.

Menurutnya, kebutuhan kitab dan Alquran di pesantren yang tinggi membuat para kiai kemudian memesan dalam jumlah besar. Hal inilah yang menjadi titik awal perkembangan percetakan hingga dikenal luas.

Baca juga: Pesanan Al-Qur’an di Percetakan Menara Meningkat 35 Persen Selama Ramadan

Kini, usaha tersebut telah memasuki generasi ketiga kepemimpinan. Dari generasi pendiri H Zaenuri Noor, hingga kini dipimpin generasi ketiga Andito Perwira Fatoni sejak 2025.

Selama perjalanannya, percetakan ini telah menghasilkan sekitar 600 judul kitab dan Alquran. Produk yang dicetak antara lain Alquran Pojok Menara, Alquran Al-Hafidz, Alquran Bombai, hingga kitab-kitab klasik pesantren seperti Fathul Muin dan Fathul Qorib.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mulai dari Rp1.700 hingga Rp 400 ribu. Harga terjangkau itu merupakan prinsip yang diwariskan pendiri, agar kitab dan Alquran dapat diakses kalangan santri dan pelajar.

Dalam proses produksi, setiap tahap—mulai desain, pencetakan, hingga penjilidan—melewati pemeriksaan ketat oleh tim korektor. Bahkan, para karyawan diwajibkan berwudhu sebelum menangani Al-Qur’an sebagai bentuk penghormatan terhadap kitab suci.

Di tengah perkembangan teknologi, permintaan kitab dan Alquran fisik masih stabil. Produk percetakan ini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, dari Sumatera hingga Papua.

Menariknya, selama Ramadan permintaan meningkat sekitar 30 persen. Hal ini dipengaruhi tingginya aktivitas tadarus dan kebutuhan kitab di pesantren.

Selain itu, percetakan juga melayani pesanan custom, bahkan untuk satu eksemplar. Tren ini muncul karena konsumen ingin desain kitab yang lebih personal.

Alex menegaskan, kunci bertahan selama puluhan tahun adalah menjaga kualitas dan ketelitian produksi. “Harapannya percetakan ini tetap eksis dan masyarakat terus menjaga Alquran sebagai pedoman hidup,” tutupnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER