31 C
Kudus
Kamis, Februari 26, 2026

130 Hektare Tanaman Padi di Karangrowo Kudus Puso, Potensi Pendapatan Petani Rp5,9M Melayang

BETANEWS.ID, KUDUS– Sebabyak 130 hektare tanaman padi di Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus dipastikan gagal panen atau puso akibat banjir yang tak kunjung surut. Kerugian petani ditaksir mencapai miliaran rupiah, dengan potensi pendapatan yang hilang diperkirakan sekitar Rp5,9 miliar.

Banjir telah merendam area persawahan selama lebih dari satu bulan. Hingga kini, kedalaman air di sejumlah titik masih mencapai satu hingga satu setengah meter.

Hamparan sawah yang biasanya menghijau kini berubah menjadi lautan. Sejumlah warga bahkan memanfaatkan genangan tersebut untuk mencari ikan menggunakan pancing, anco, hingga senapan angin.

-Advertisement-

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Karangrowo, Hawi Sukamto, memastikan seluruh lahan terdampak tidak bisa diselamatkan. Tanaman padi yang terendam rata-rata sudah memasuki fase bunting, bahkan ada yang hampir panen.

Baca juga: Musim Panen, Harga Padi di Kudus Tingkat Petani Capai Rp7.000 Per Kilogram

“Total ada 130 hektare yang terendam lebih dari satu bulan. Dengan kondisi seperti ini, dipastikan puso,” ujar Hawi di Desa Karangrowo, belum lama ini.

Menurut Hawi, satu hektare sawah di Karangrowo mampu menghasilkan sekitar tujuh ton gabah saat panen normal. Dengan harga gabah sesuai imbauan pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram, petani seharusnya bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp45,5 juta per hektare.

Jika dikalikan luas lahan terdampak, potensi pendapatan petani yang hilang akibat banjir mencapai kurang lebih Rp5,9 miliar dalam satu musim tanam.

“Kalau kerugian atau biaya tanam yang sudah dikeluarkan kurang lebih Rp 8 juta per hektarnya. Tinggal mengkalikannya saja,” bebernya.

Dia menjelaskan, asumsi biaya produksi rata-rata Rp8 hingga Rp10 juta per hektare. Artinya total kerugian modal petani Desa Karangrowo mencapai sekitar Rp1,3 miliar.

“Kerugian tersebut dirasakan langsung oleh para petani yang menggantungkan hidup dari hasil panen,” ungkapnya.

Dia menuturkan, sebagian tanaman padi yang puso telah diajukan klaim asuransi pertanian. Dari total 130 hektare, sekitar 100 hektare sudah terdaftar asuransi sejak November 2025.

Baca juga: Bukan Cuma 10 Ton per Hektare, Padi Varietas Inpari 43 Bisa Hasilkan Hampir 12 Ton

“Namun, sekitar 30 hektare lainnya tidak diasuransikan karena sebagian petani enggan mengurus administrasi. Kondisi ini membuat sebagian petani terancam tidak mendapat penggantian kerugian,” tuturnya.

Karangrowo sendiri dikenal sebagai wilayah langganan banjir. Hawi menilai solusi utama bukan pembangunan embung, melainkan normalisasi Sungai Juwana dan saluran yang dikenal sebagai JU 1 yang kini mengalami pendangkalan.

Menurutnya, pendangkalan sungai, tumpukan enceng gondok, serta sampah batang pisang yang dibuang ke aliran sungai membuat air tidak mengalir lancar. Ia pun berharap, rencana normalisasi Sungai Juwana yang dikabarkan akan dilakukan pada Agustus 2026 diharapkan segera terealisasi.

“Kalau sungai dinormalisasi, semoga petani Karangrowo bisa panen dua kali setahun. Selama ini karena banjir, paling hanya panen sekali,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER