31 C
Kudus
Jumat, Januari 23, 2026

Siomay Cap Kingkong, Lapak Malam yang Tak Pernah Sepi di GOR Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Malam itu, di kawasan GOR Kudus masih menyisakan hiruk pikuk kecil. Sebagian pedagang mulai menutup lapak. Di bawah lampu jalan yang temaram, sebuah sepeda motor dengan gerobak hijau mencolok tampak tetap bertahan. Asap tipis mengepul dari kukusan yang menyala di atasnya, menyebarkan wangi gurih kacang dan adonan kukus yang menarik perhatian para pejalan kaki.

Di balik gerobak sederhana itu, seorang pria sibuk menuang saus kacang ke dalam plastik berisi siomay, sesekali menyapa pembeli dengan senyum ramah. Tangannya cekatan, gerakannya seolah telah dihafal oleh waktu. Di tak lain adalah Tiran (37), penjual siomay Cap Kingkong yang hampir setiap hari mangkal di sekitar GOR Kudus.

Baca Juga: Nasi Jagung Angkringan Semar Pati, Sajikan Kehangatan Pedesaan dengan Botok dan Sayur Tradisonal

-Advertisement-

Tiran mengaku, sudah menekuni usaha tersebut sejak 2011. Pria kelahiran Brebes itu memilih berjualan siomay sebagai jalan untuk bertahan hidup dan mengisi hari-harinya di Kudus.

“Ya alhamdulillah, daripada di rumah nganggur. Kalau di rumah kan sepi, mending di sini rame,” ujarnya sambil tersenyum saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ia mengaku, keterampilan membuat siomay tidak ia peroleh dari kursus atau belajar pada orang lain. Semua ia pelajari secara otodidak, lewat proses mencoba dan terus memperbaiki rasa hingga menemukan takaran yang pas.

“Ya awalnya saya coba-coba buat sendiri. Lama-lama kan ketemu racikan yang pas,” bebernya.

Tiran biasanya mulai berjualan sekitar pukul 15.00 sore hingga 23.00 malam. Hari liburnya tidak menentu, biasanya ia memilih libur pada hari Senin atau Jumat. Sementara pada pagi hingga siang, ia memilih berkeliling dari desa ke desa untuk menjajakan dagangannya.

Menu yang ditawarkan terbilang sederhana, yakni siomay tahu gelondong dan kol. Dengan cita rasa yang konsisten dan harga yang terjangkau, membuat pelanggannya kerap kembali.

Baca Juga: Nasi Kebuli Jadi Pilihan Sarapan Cepat Warga Gribig Kudus

Saat pembeli sedang ramai, dalam sehari ia bisa meraih omzet hingga Rp250 ribu. Menurutnya, penghasilan itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kadang rame, kadang sepi. Tapi kalau rami bisa mengantongi hingga Rp250 ribu,” tambahnya.

Penulis: Muhammad Amaruddin, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER