31 C
Kudus
Sabtu, Februari 14, 2026

DPRD Kecam Pembukaan KONI Kudus Award, Soroti Etika dan Budaya

BETANEWS.ID, KUDUS – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus menyoroti pelaksanaan KONI Kudus Award yang digelar di Pendopo Kabupaten Kudus, Senin petang (29/12/2025). Sorotan muncul setelah pembukaan acara tersebut diisi penampilan solo dance dengan busana yang dinilai kurang elok dan tidak sesuai dengan karakter masyarakat Kudus.

Video penampilan dance pada pembukaan KONI Kudus Award itu pun viral di berbagai platform media sosial. Tayangan tersebut menuai kecaman warganet dan langsung mendapat perhatian serius dari Komisi D DPRD Kudus.

Baca Juga: KONI Kudus Gelar Award 2025, Apresiasi Atlet dan Insan Olahraga

-Advertisement-

Ketua Komisi D DPRD Kudus, Mardijanto, menyayangkan pilihan hiburan dalam acara resmi olahraga tersebut. Menurutnya, banyak cabang olahraga yang lebih pantas ditampilkan sebagai pembuka KONI Kudus Award.

“Sangat disayangkan dan menurut saya kurang pas. Harusnya panitia bisa menampilkan olahraga lain, seperti pencak silat atau cabang olahraga lainnya, bukan malah dance,” ujar Mardijanto di Gedung DPRD Kudus, Selasa (30/12/2025).

Mardijanto menambahkan, Kabupaten Kudus selama ini dikenal sebagai kota religi. Karena itu, penampilan dengan busana terbuka dinilai tidak sejalan dengan nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Kota Kretek.

“Di Kudus ini ada dua makam wali, yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria. Pendopo Kudus juga tempat yang sakral. Jadi jelas sangat disayangkan adanya kecerobohan dari panitia KONI Kudus Award,” tandasnya.

Atas kejadian tersebut, Komisi D DPRD Kudus memastikan akan segera memanggil pengurus KONI Kudus. Pemanggilan dilakukan untuk meminta klarifikasi terkait penampilan dance yang menuai polemik tersebut.

“Dalam waktu dekat akan kami panggil pengurus KONI. Kami minta klarifikasi atas kejadian ini,” tegas Mardijanto.

Anggota Komisi D DPRD Kudus, Ali Ihsan, turut menyesalkan polemik yang muncul dari pembukaan KONI Kudus Award. Ia menilai, setiap hiburan dalam acara resmi seharusnya mengedepankan nilai edukasi bagi masyarakat.

“Kudus ini Kota Santri. Jadi hiburan harus punya nilai edukasi dan sesuai budaya. Kami sangat menyayangkan, apalagi ini sudah viral dan viralnya negatif,” ujar politisi PKB tersebut.

Ali Ihsan menegaskan, Komisi D DPRD Kudus sepakat memanggil pengurus KONI Kudus untuk meminta penjelasan secara langsung.

Sementara itu, Ketua KONI Kudus, Sulistyanto, mengakui bahwa penampilan dance pada pembukaan KONI Kudus Award kurang tepat. Ia menyebut, pelaksanaan acara dilakukan secara mendadak sehingga terjadi lepas kontrol.

“Memang penampilan dance tersebut kurang pas di tempatnya. Acara juga dadakan, jadi lepas kontrol,” ujar Sulistyanto saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (30/12/2025).

Baca Juga: Bakal Ada 500 Stand di Dandangan 2026 Kudus, Harga Mulai Rp1,5 Juta

Ia memastikan, kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi ke depan. Sulistyanto juga mengaku telah menegur Pengurus Cabang Ikatan Olahraga Dancesport Indonesia (IODI) terkait penampilan tersebut.

“Ini menjadi pembelajaran bagi kami. Ke depan tentu akan kami evaluasi agar pelaksanaan acara bisa lebih baik lagi,” ucapnya. 

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER