BETANEWS.ID, PATI — Suara kompor kecil berpadu dengan aroma malam yang memanas, membentuk suasana khas di Taman Batik, Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Minggu (5/10/2025). Di bawah terik matahari pagi, seratusan ibu-ibu tampak duduk rapi dengan gawangan dan kain putih di hadapan mereka.
Asap tipis mengepul dari wajan kecil, sementara tangan-tangan yang penuh gurat tampak lihai mencelupkan canting ke malam cair. Dengan napas pelan, mereka meniup ujung canting lalu menorehkan garis demi garis di atas kain putih. Dalam kesabaran dan ketelatenan, coretan itu perlahan menjelma menjadi motif batik yang menawan.
Baca Juga: Anak Kajen Unjuk Inovasi, MA Salafiyah Pati Juara 3 Nasional Kompetisi NIPRO ITS
Pemandangan itu menjadi bagian dari aksi membatik massal dalam rangkaian Festival Batik Bakaran yang digelar sejak Jumat (3/10/2025) hingga Minggu (5/10/2025). Sedikitnya ada 100 pengrajin batik dari Desa Bakaran Wetan dan Desa Bakaran Kulon yang ikut serta dalam kegiatan tersebut.
Tak hanya membatik bersama, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan menarik. Ada lomba pewarnaan batik dengan teknik colet untuk anak-anak TK dan SD, pameran batik tulis Bakaran, bazar UMKM, festival kesenian, fashion show batik dari emak-emak hingga anak-anak, serta pemilihan Duta Batik Bakaran.
“Ini menjadi rangkaian Festival Batik Bakaran yang kami gelar untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Desember ini,” ujar Kepala Desa Bakaran Wetan, Wahyu Supriyo.
Festival yang kini memasuki tahun keenam ini menjadi tradisi tahunan warga Bakaran untuk menjaga warisan leluhur.
“Festival ini secara rutin kami gelar setiap tahun. Kali ini sudah memasuki tahun keenam Festival Batik Bakaran,” ujarnya.
Wahyu menjelaskan, kegiatan ini juga menjadi upaya mengenalkan eksistensi batik tulis Bakaran kepada masyarakat luas. Terlebih, batik khas daerah ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh pemerintah.
“Kami ingin menunjukkan jika di Desa Bakaran Wetan masih banyak pengrajin batik tulis manual dan klasik, bukan batik cap apalagi printing,” ungkapnya.
Menurut Wahyu, saat ini terdapat sedikitnya tujuh pengrajin besar di Desa Bakaranwetan, masing-masing dengan 20 hingga 30 pembatik.
“Di Desa Bakaran Kulon hingga saat ini juga masih cukup banyak,” imbuhnya.
Baca Juga: Pansus DPRD Pati Was-was, Dugaan Intimidasi Bayangi Kerja Hak Angket
Sementara itu, Anggota DPRD Jateng M Ali Wafa yang turut hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap pelestarian batik Bakaran.
“Batik Bakaran merupakan suatu budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Tentu kami akan berupaya memperkenalkan dan melestarikan di level Jawa Tengah bahkan nasional,” ungkapnya.
Editor: Haikal Rosyada

