31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Fahmy Bakery, Roti Lembut yang Terjual Hingga 1.500 Biji Sehari

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, aroma manis roti baru matang tercium dari sebuah dapur minimalis di Desa Kajar RT 4/3, Dawe, Kudus. Sejak pukul 08.00 WIB, enam perempuan tampak sibuk menguleni adonan, mengisi, hingga menata roti yang siap dipanggang maupun dikukus. Dapur mungil itu tak lain adalah Fahmy Bakery, usaha rumahan yang dirintis Sulasmi (50) sejak tahun 2017.

Awalnya, Sulasmi hanya membuat dua produk sederhana, yaitu pisang coklat dan brownies. Seiring berjalannya waktu, usaha kecil itu terus berkembang hingga kini menawarkan aneka roti seperti bolen isi pisang coklat, mandarin, donat, hingga roti sobek. Meski begitu, pisang coklat tetap menjadi primadona.

Baca Juga: Es Puter Harmini, Suguhkan Cita Rasa Jadul di Tengah Gempuran Es Krim Modern

-Advertisement-

“Produksi setiap harinya bisa sampai 1.000–1.500 biji untuk berbagai jenis produk. Khusus pisang coklat, setiap hari selalu bikin 500 biji karena itu roti andalan,” ujar Sulasmi saat ditemui beberapa waktu lalu.

Harga rotinya pun ramah di kantong, mulai Rp2.000 per buah, atau Rp13.000 hingga Rp15.000 per boks isi kombinasi. Fahmy Bakery tidak hanya melayani pembeli yang datang langsung, tapi juga memiliki jaringan sales yang mendistribusikan roti hingga ke Kudus, Jepara, Pati, dan Demak.

“Setiap hari tetap produksi karena ada sales yang mengantar ke pelanggan. Kalau ada hajatan, pesanan bisa jauh lebih banyak,” tuturnya.

Meski begitu, Sulasmi tetap menyiapkan stok untuk tetangga sekitar yang sering membeli secara mendadak. Biasanya ia menyediakan sekitar 100 biji tiap varian.

“Kalau pesannya di atas 100, harus order sehari sebelumnya,” jelasnya.

Baca Juga: Donat Enaknyam Jadi Primadona Pecinta Kuliner Kudus, Sehari Bisa Terjual 300 Biji 

Perjalanan Fahmy Bakery tidak selalu mulus. Sulasmi mengaku, masih bergulat dengan keterbatasan alat produksi. Oven yang sederhana membuat hasil roti kadang tidak maksimal, apalagi saat mati listrik. Proses pengembangan adonan pun masih mengandalkan suhu alam.

“Kalau panas, roti bisa cepat mekar. Tapi kalau musim hujan, dingin, jadi lama,” tanbahnya.

Penulis: Eka Rahmania, Mahasiswa PPL UIN Sunan Kudus

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER