BETANEWS.ID, KUDUS – Aliran air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kudus yang mengalir ke wilayah Kecamatan Undaan dikeluhkan sejumlah warga. Hal itu dikarenakan karena aliran air di sana mampet alias tidak keluar air sama sekali.
Seperti yang dialami oleh salah satu warga bernama Eka Damayanti. Warga Desa Kutuk RT 7 RW 2, Kecamatan Undaan tersebut memprotes air PDAM yang mengalir ke wilayahnya tidak keluar selama beberapa hari ini.
Baca Juga: Mahasiswa UMK Tembus Thailand, Sebarkan Semangat Belajar Bahasa Inggris
“Mulai tidak bisa mengalir sejak Jumat lalu, hingga pagi ini. Alhamdulillah saat ini air sudah mulai mengalir meskipun alirannya tidak deras,” bebernya saat ditemui di kediamannya, Selasa (14/10/2025).
Bahkan pihaknya mengaku, sempat menghubungi petugas PDAM yang mengurusi wilayah Kecamatan Undaan. Namun menurutnya, tidak ada respon sama sekali hingga keluhannya itu disampaikan ke salah satu grop WhatsApp.
“Saya sudah mencoba menghubungi petugas PDAM di wilayah Undaan tapi tidak ada respon. Padahal pesan saya sudah dibaca tapi tidak dibalas,” ujarnya.
Ia sangat menyayangkan adanya kejadian itu. Lantaran menurutnya, dia tak pernah telat membayar terkait kebutuhan air di rumahnya. Bahkan ketika bayar telat, konsumen seperti dirinya ada uang denda yang ditanggung.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari ketika air tidak keluar, katanya, membeli air bersih. Menurutnya, itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti untuk memasak dan lain sebagainya.
“Sementara ketika air tidak mengalir, mandi di sungai, nyuci numpang ke Desa Terangmas, sementara air minum, cuci piring serta cuci baju beli air jerigenan. Satu jerigennya harga Rp4 ribu, sedangkan selama lima hari ini sudah membeli sebanyak 10 jerigen,” terangnya.
Ia berharap, supaya air PDAM bisa mengalir dengan lancar tanpa kendala seperti ini. Dia juga meminta agar aliran air mengalir bagus seperti di desa-desa lainnya
Sementara itu, Pengawas Produksi PDAM Wilayah Kecamatan Undaan, Suhagiyanto menjelaskan, bahwa sebenanrnya air PDAM yang mengalir ke wilayah selatan tidak sepenuhnya mati total. Ada waktu-waktu air bisa mengalir hingga ke Desa Kutuk atau sampai Desa Lambangan.
“Hidupnya itu pukul 3.00-11.00 WIB kemudian aliran airnya mati. Baru sore bisa hidup lagi, jadi memang tidak mati total,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (14/10/2025).
Baca Juga: 10 Ribu Warga Kudus Terlempar dari PBI APBN, Pemkab Siapkan Skema Pendanaan Lewat APBD
Ia menyebut, aliran air yang tidak lancar tersebut diakibatkan karena adanya kebocoran saluran. Hingga kini proses pencarian titik kebocoran saluran air masih dilakukan guna untuk memberikan pelayanan kepada konsumen.
“Aliran air tidak mati total karena ada kebocoran yang belum bisa kami temui. Untuk saat ini masih dalam proses pencarian titik yang mengalami kebocoran,” terangnya.
Editor: Haikal Rosyada

