BETANEWS.ID, KUDUS – Demi ngalap berkah dari Sunan Kudus, puluhan pria rela meninggalkan pekerjaannya selama empat hari untuk ikut serta dalam tradisi pembuatan luwur atau kain penutup makam Sunan Kudus. Tradisi tahunan yang sarat makna spiritual ini dimulai sejak tanggal 6 hingga 9 Muharram atau 6–9 Suro dalam penanggalan Jawa.
Koordinator Luwur Makam Sunan Kudus, Fachal Anami Farodis, menjelaskan bahwa pembuatan luwur tidak sekadar aktivitas rutin, namun merupakan bentuk pengabdian dan warisan budaya yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat sekitar.
Baca Juga: Menengok Ritual Sakral Penjamasan Keris dan Dua Tombak Peninggalan Sunan Kudus
“Mulai tanggal 6 sampai 9 Muharram, kami membuat berbagai macam luwur untuk Makam Mbah Sunan Kudus. Ada unthuk banyu, kompol, wiru, langitan, sampai melati. Total ada 35 perewang yang terlibat dalam proses ini,” ujar Fachal saat ditemui di area makam Sunan Kudus, Rabu (2/7/2025).
Para perewang, lanjut Fachal, datang dari berbagai latar belakang. Tetapi sebagian besar adalah pedagang. Menariknya, tak satu pun dari mereka menerima bayaran. Mereka justru rela meninggalkan pekerjaannya selama empat hari penuh demi mengikuti proses pembuatan luwur.
“Tidak ada syarat khusus, yang penting mau meluangkan waktu empat hari dan tidak bekerja di luar selama itu. Kebanyakan dari mereka ikhlas karena ingin ngalap barokah dari Mbah Sunan Kudus,” bebernya.
Aktivitas pembuatan luwur dimulai sejak pukul 07.30 WIB hingga 15.00 WIB. Meski tanpa imbalan finansial, para perewang tetap semangat. Bagi mereka, berkah dari Sunan Kudus jauh lebih berharga. Harapan mereka sederhana, usaha lancar, dagangan laris, dan kesehatan bagi keluarga.
Dia menambahkan ada satu sosok paling senior dalam tradisi ini yakni, Pak Nor Khanis. Beliau mungkin usianya sudah 70 tahun dan telah ikut membuat luwur sejak remaja. Tradisi ini bahkan telah dilakoni keluarganya secara turun-temurun sejak zaman kakeknya.
“Mungkin beliau sudah lebih dari 50 tahun ikut membantu membuat luwur Makam Sunan Kudus,,” terang Fachal.
Soal bahan, tuturnya, untuk saat ini belum bisa dipastikan menghabiskan berapa kain mori. Tetapi di tahun lalu ada sekira 34 pcs. Masing-masing per pcsnnya itu sepanjang 45 meter.
Baca Juga: Sambut Bulan Muharram, Masyarakat Desa Jambu Timur Jepara Gelar Piweling Asyura
Terkait kesulitan, kata dia, hampir tak ada. Sebab, rata-rata perewang sudah berpengelaman. Jadi keahlian mereka tak diragukan lagi.
“Soal kesulitan sih tidak ada, karena semuanya sudah terbiasa. Paling kalau ada orang baru, biasanya kami dampingi dulu,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

