BETANEWS.ID, KUDUS – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (HIMATIKA) Universitas Muria Kudus (UMK) menghadirkan program bertajuk “Desa Cerdas Bordir” untuk menghidupkan kembali semangat usaha bordir di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.
Program ini merupakan bagian dari Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan bertujuan membangkitkan kembali identitas Padurenan sebagai desa sentra bordir, sekaligus mendorong keterlibatan pemuda dalam pengembangan potensi lokal.
Baca Juga: Jelang Unjuk Rasa 13 Agustus, Polresta Pati Panaskan Kesiapan Pasukan Dalmas
Wakil Rektor III UMK, Prof. Sugeng Slamet, mengapresiasi kiprah HIMATIKA dalam program pengabdian ini. Menurutnya, PPK Ormawa bukan sekadar aktivitas kemahasiswaan, melainkan ruang nyata bagi mahasiswa untuk mengasah kepemimpinan dan memberikan dampak sosial langsung.
“PPK Ormawa bukan hanya bentuk pengabdian, tetapi juga sarana pembelajaran kepemimpinan nyata. Kami yakin, kontribusi HIMATIKA akan membawa manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Padurenan,” ujarnya kepada Betanews.id melalui siaran tertulisnya, Kamis (31/7/2025).
Kepala Desa Padurenan, Thoni Hermawan, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyoroti tantangan utama yang dihadapi industri bordir saat ini, yakni rendahnya minat generasi muda.
“Minat pemuda terhadap usaha bordir menurun. Salah satu penyebabnya adalah masih digunakannya mesin bordir manual yang membutuhkan waktu lama. Hal ini membuat usaha bordir dianggap tidak praktis dan kurang menarik bagi anak-anak muda,” tuturnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim PPK Ormawa HIMATIKA UMK, Qorri Aina Putri, menyatakan bahwa program ini dirancang tidak hanya untuk membangkitkan kembali sektor bordir dari sisi ekonomi, tetapi juga untuk menanamkan nilai budaya kepada generasi muda.
“Kami ingin bordir tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai peluang masa depan. Melalui pelatihan, pendampingan, dan inovasi teknologi, kami ingin menjadikan Padurenan sebagai desa cerdas dalam memaksimalkan potensi bordirnya,” jelas mahasiswa Pendidikan Matematika tersebut.
Baca Juga: Enam Titik Jadi Prioritas Perbaikan Jalan Kudus-Purwodadi, Anggaran Capai Rp7,7 Miliar
Sebagai bentuk implementasi program, tim HIMATIKA menginisiasi pembentukan lima “Pojok Bordir” yang tersebar di sejumlah titik strategis di desa. Pojok ini akan difungsikan sebagai pusat pelatihan dan pengembangan kapasitas bagi pemuda, mulai dari pelatihan desain, digitalisasi proses produksi, hingga strategi pemasaran berbasis teknologi.
Program “Desa Cerdas Bordir” dijadwalkan berlangsung selama empat bulan, dimulai sejak Juli 2025. Diharapkan, melalui pendekatan kolaboratif dan pemanfaatan teknologi, Desa Padurenan dapat kembali dikenal sebagai sentra bordir unggulan yang diminati oleh generasi muda.
Editor: Haikal Rosyada

