BETANEWS.ID, KUDUS – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kudus tercatat mencapai 251 sejak Januari hingga pekan ke-18 tahun 2025. Meski jumlahnya cukup tinggi, hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat penyakit tersebut.
“Jumlah kasus DBD di Kudus itu 251 mulai Januari sampai minggu ke-18. Kasus kematian nol,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Andini Aridewi, saat ditemui usai rapat koordinasi lintas sektor di @Hom Hotel, Selasa (20/5/2025).
Baca Juga: Atap Pasar Kliwon Bocor Saat Hujan Lebat, Kepala Disdag Kudus Minta Maaf ke Pedagang
Andini mengungkapkan, dari jumlah kasus tersebut paling banyak terkena DBD adalah anak-anak dengan persentase mencapai 40 persen. Kemudian disusul kelompok usia produktif, yakni 15 hingga 44 tahun.
“Jadi itu usia reproduktif yang juga banyak terdampak,” tambah Andini.
Sebagai upaya pengendalian, Dinas Kesehatan Kudus menggelar rapat koordinasi Pokjanal Penanggulangan Dengue yang melibatkan lintas sektor dan program. Pertemuan ini bertujuan untuk menyamakan langkah dalam menangani dan mencegah penyebaran penyakit tersebut.
“Pokjanal ini sangat berarti karena peran dari masing-masing sektor dibutuhkan untuk bisa berupaya dan berkolaborasi bersama melakukan pengendalian penyakit dengue di Kabupaten Kudus,” katanya.
Menurutnya, pengendalian penyakit menular tidak hanya cukup melalui penanganan kasus, tetapi juga memerlukan pencegahan yang konsisten dan terarah. Edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi langkah awal yang penting.
“Langkah konkret pertama adalah tindakan promotif dan preventif dengan memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa DBD itu sebetulnya bisa dicegah,” ucapnya.
Salah satu langkah utama yang terus digencarkan adalah gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan menerapkan prinsip 3M Plus. Masyarakat diimbau aktif menguras, menutup, dan mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung air.
“Karena penyebabnya adalah virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti, maka pencegahan utamanya adalah dengan mencegah perkembangbiakan nyamuk tersebut,” jelas Andini.
Ia juga menyoroti bahwa upaya pencegahan tidak bisa hanya difokuskan di lingkungan rumah, mengingat kasus terbanyak justru terjadi pada anak-anak usia sekolah.
Baca Juga: Sejumlah Ormas di Kudus Tertarik Ikuti Lelang Parkir
“Karena kasus tertinggi terjadi pada usia sekolah, maka gerakan PSN juga harus digalakkan di sekolah-sekolah,” tegasnya.
Melalui koordinasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, Andini berharap angka kasus DBD di Kudus bisa terus ditekan dan tidak terjadi lonjakan kasus di masa mendatang.
Editor: Haikal Rosyada

