BETANEWS.ID, PATI – Ratusan warga Desa Gadingrejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, menggelar ritual buang sengkolo pada Selasa (13/5/2025). Ritual tersebut dimulai dari doa bersama di Punden Mbah Gemi yang berada di desa setempat.
Ritual ini merupakan simbol perjuangan para warga yang menolak berdirinya pabrik con beton yang baru saja berdiri di Desa Gadingrejo itu.
Warga tampak berbondong-bondong ke Punden Mbah Gemi, pada Selasa sore. Mereka terlihat membawa berkat yang berisikan nasi, lauk pauk hingga sayuran. Berkat itu dikumpulkan di Punden yang lokasinya tak jauh dari berdirinya pabrik beton tersebut.
Setelah semua warga berkumpul di area punden Mbah Gemi, kemudian seorang tokoh agama memimpin doa. Mereka berharap kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Desa Gadingrejo, khususnya Dukuh Guwo terhindar dari bala atau mala petaka. Termasuk malapetaka dari berdirinya pabrik tersebut.
Usai acara doa bersama atau hajatan, kemudian salah satu tokoh desa membuang kembang di hadapan ratusan warga. Hal ini bagian dari ritual untuk membuang sengkolo, yang merupakan simbol penolakan berdirinya pabrik cor beton.
”Ini acara dari warga FMPL (Forum Masyarakat Peduli Lingkungan) yang menolak pabrik readymix yang berdiri di sini. Kalau pabrik berdiri di sini, kesehatan kita tetap terganggu. Apalagi dekat dengan pemukiman warga,” ujar Zaenul Karim, salah satu tokoh masyarakat.
Pabrik cor beton tersebut disebutnya mulai berdiri sejak Februari 2025 lalu. Warga tak tahu-menahu, namun tiba-tiba lahan pertanian di Desa Gadingrejo diuruk dan didirikan pabrik tersebut.
Warga pun dihinggapi dengan berbagai pertanyaan. Mereka kemudian bertanya kepada pihak pemerintah desa (Pemdes) terkait berdirinya pabrik tersebut. Namun, Pemdes juga tidak mengetahui.
”Kita berdoa bersama, tolak balak. Memohon kepada Tuhan Yah Maha Esa sehingga pabrik tidak berdiri. Pemdes tidak tahu. Apalagi warga juga tidak tahu. Pabrik seolah tidak menganggap,” ungkapnya.
Keadaan ini membuat warga geram dan sempat mendemo pabrik yang masih proses berdiri tersebut. Mereka sempat menggelar aksi dan menggeruduk pabrik tersebut. Namun hingga kini, proses pembangunan pabrik masih dilanjutkan.
”Kami sudah ajukan ke dewan tidak ada respon. Baru dari pihak kecamatan yang diundang negosiasi. Tapi belum ada hasil. Setelah demo pembangunan pabrik terus dilakukan. Seolah warga tidak dianggap,” kata dia.
Ia mengaku langkah penolakan dari warga ini murni untuk nasib anak-anak dan generasi penerus. Mereka khawatir, berdirinya pabrik tersebut membuat lingkungan tercemar.
”Ini kami pikirkan untuk anak-anak generasi mendatang. Bagaimana nasibnya kalau pabrik berdiri. Debu tetap bakal banyak. Kita peduli lingkungan maka seluruh warga menolak,” tegas dia.
Zainul mengaku saat ini sudah merasakan dampak proses berdirinya pabrik tersebut. Sejumlah warga sudah merasakan batuk. Selain itu, rumah warga juga sering berdebu akibat pengurukan lahan pabrik tersebut.
”Sudah ada dampak, batuk pilek, berdampak kepada pertanian. Ini khawatirnya menjadi gersang. Ini kan pakai oplosan semen. Kalau kena seman mati tanaman,” pungkasnya.

