BETANEWS.ID, KUDUS – Bermula dari sebuah kelompok pada 2011, Yatno, seorang pembudidaya lele di Kudus berhasil melanjutkan usaha ini seorang diri hingga mencapai kesuksesan. Dengan semangat pantang menyerah, ia mengembangkan budidaya lele dari hanya satu kolam menjadi 62 kolam yang berkapasitas hingga 150 ribu bibit lele.
“Awalnya sifatnya kelompok, tetapi dua tahun kemudian banyak yang bosan. Akhirnya saya melanjutkan sendiri,” katanya.
Baca Juga: Waw, Perputaran Uang Gebyar PKL Kudus Diperkirakan Capai Rp4 Miliar
Dalam sebulan, ia mampu memanen sekitar 2 ton lele. Penjualan lele difokuskan langsung ke konsumen tanpa melalui tengkulak, seperti memenuhi kebutuhan rumah makan dan pesanan acara. Hal ini dilakukan untuk menjaga keuntungan karena ia menggunakan pakan pelet pabrikan yang memerlukan biaya cukup tinggi.
“Kalau tidak langsung ke konsumen, kita bisa jebol atau rugi. Penghasilan kami hanya Rp2.000 per kilogram saat panen. Keuntungan per bulan paling setara UMR,” ujarnya di kolam budidayanya di Desa Gulang, Kudus.
Meski demikian, harga jual lele saat ini katanya, sedang lesu. Antara berkisar Rp19 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram. Menurutnya, daya beli masyarakat yang menurun menjadi salah satu penyebab.
Ia mengungkapkan tantangan terbesar dalam budidaya lele adalah biaya pakan dan kebutuhan air. Dibutuhkan tiga sumur bor yang menyuplai air untuk 62 kolamnya. Meski begitu, ia optimistis dengan prospek budidaya lele lima tahun ke depan.
“Di Kudus, pasokan lele sebenarnya masih kurang. Banyak yang dipasok dari daerah seperti Pati dan Demak. Jadi peluangnya masih sangat bagus,” tuturnya.
Ia mengajak generasi muda untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru, khususnya di sektor perikanan. Sebab peluang pasar yang masih luas dan manfaat kesehatan yang besar dari ikan lele, budidaya ini diharapkan menjadi salah satu sektor yang terus berkembang di Kudus.
Baca Juga: Bakul Piala Kudus Kuwalahan Layani Pesanan di Momen Agustusan
“Budidaya lele bisa menjadi ketahanan pangan yang mendukung Indonesia lebih maju dan makmur. Mari kita ciptakan pekerjaan baru, tidak harus bekerja di perusahaan,” ungkapnya.
“Harapannya, budidaya ini tetap berlanjut, terutama jika ada program makan gratis untuk ketahanan pangan. Ikan lele kaya omega, bagus untuk kecerdasan otak dan kesehatan anak,” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

