
Selain itu, Diordean juga mengenalkan konsep computational thinking, yaitu metode berpikir yang mengajarkan anak-anak untuk mengenali pola, mengurai masalah, dan berpikir logis.
Pada kesempatan mengajar di PAUD Terpadu Kalirejo, anak-anak diajak memahami pola sederhana seperti urutan bulan dan bintang, yang merupakan dasar dari pemikiran algoritma. Dengan cara itu, anak-anak mulai belajar bagaimana memecahkan masalah secara terstruktur, sebuah keterampilan yang akan sangat berguna di era teknologi.
“Storytelling membantu anak-anak fokus dan mendengarkan, sementara computational thinking melatih mereka untuk berpikir kritis dan logis,” ujar Diordean.
Kecintaan Diordean pada storytelling dimulai sejak ia masih kecil. Ia sering mendengar cerita dan menonton film yang kemudian membangkitkan rasa ingin tahunya terhadap seni bercerita.
Baca juga: PAUD di Undaan Ini Disebut Mirip di Jepang, Fasilitas Lengkap dan Menyenangkan (4)
Ketika duduk di bangku sekolah dasar, Diordean sering mengikuti lomba storytelling, yang semakin memperkuat minatnya. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa storytelling bisa menjadi alat yang efektif untuk mengajarkan anak-anak. Bahkan konsep-konsep yang lebih kompleks, seperti sains dan teknologi bisa diajarkan dengan cara sederhana.
“Saya suka melihat bagaimana anak-anak merespon cerita yang saya sampaikan. Ini bukan hanya soal menghibur mereka, tapi juga membuat mereka memahami sesuatu dengan cara yang lebih mudah,” jelasnya.
Diordean juga berbagi beberapa tips yang ia gunakan dalam mengajar anak-anak usia dini dengan metode storytelling. Salah satu kunci suksesnya adalah memberikan hook di awal cerita untuk menarik perhatian anak-anak.

