31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Terdampak Kekeringan, Ribuan Hektare Lahan Padi dan Jagung di Pati Puso

BETANEWS.ID, PATI – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Pati mencatat, dampak kekeringan tahun ini cukup signifikan. Ribuan hektare lahan padi dan jagung bahkan gagal panen atau puso akibat bencana tersebut.

Berdasarkan data yang dimiliki Dispertan Pati, tercatat ada sepuluh kecamatan yang terdampak kekeringan, sehingga menyebabkan tanaman terdampak hingga puso. Di antaranya ada di Kecamatan Sukolilo, Kayen, Juana, Winong, Gabus, Tambakromo, Jaken, Pucakwangi, Batangan, dan Jakenan.

Baca Juga: Panen Raya, Harga Tembakau di Jaken Pati Justru Turun

-Advertisement-

Dari 10 kecamatan tersebut, untuk lahan padi yang terdampak, total ada 14.331 hektare lahan yang terdampak kekeringan. Dari belasan hektare itu, 8.158 hektare di antaranya puso.

Tercatat, Kecamatan Pucakwangi menjadi daerah terparah yang terdampak. Sebanyak 1.683 hektare terdampak dan 1683 hektare pula juga mengalami puso. Begitu pula Kecamatan Jaken, tercatat ada 1.503 hektare terdampak kekeringan dan juga mengalami puso.

Kemudian, Kecamatan Jakenan juga mengalami dampak yang cukup besar. Sebanyak 2.183 lahan disana terdampak, namun 738 hektare di antaranya berhasil dipulihkan. Sementara yang puso tercatat seluas 1.445 hektare.

Sementara, untuk tanaman jagung tercatat ada 1.153 hektare di Kecamatan Tambakromo. Tersebar di Desa Pakis, Maitan, Wukirsari, Karangawen dan Larangan. Dari ribuan hektare itu tercatat ada 510 hektare yang puso.

Terkait kondisi itu, Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) pada Dispertan Pati, Sugiharto mengatakan, pemerintah telah berupaya melakukan sejumlah langkah untuk membantu petani dalam menghadapi musim kekeringan seperti sekarang ini.

“Ada bantuan bibit padi sebesar 25 kilo untuk setiap hektare. Harapannya lahan bisa ditanami kembali. Untuk varietasnya sesuai usulan petani. Yakni inpari 32,” ujarnya via telepon.

Baca Juga: Ngopi Sore Syahdu di Pinggir Sungai Silugonggo Pati

Selain itu, ia juga menyebut, pihaknya selalu menawarkan kepada para petani untuk mengikuti asuransi tani. Sehingga saat terjadi kegagalan baik akibat kekeringan, banjir maupun kejadian luar biasa lainnya dapat diklaimkan.

“Petani yang ingin mendaftar lewat kelompok tani kemudian menghubungi PPL di kecamatan maupun yang membina di desa. Premi yang dibayarkan petani hanya Rp 36 ribu per hektarenya. Sebenarnya jauh lebih besar tapi ada subsidi dari pemerintah,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER