Setahun Terakhir, Museum Patiayam Catat 15 Temuan Fosil Purba

BETANEWS.ID, KUDUS – Museum Situs Purbakala Patiayam mencatat ada sebanyak belasan temuan fosil purba selama satu tahun terakhir ini. Temuan tersebut kebanyakan didominasi fosil keluarga bovidae atau sejenis kerbau, sapi, badak, dan lainnya.

Koordinator Museum Situs Purbakala Patiayam, Jamin mengatakan, terhitung sejak September 2023 hingga Agustus 2024, sebanyak 15 fosil ditemukan oleh warga. Jumlah termuan itu baik masih tersimpan di rumah warga maupun sudah berada di dalam museum.

Baca Juga: Meski AKD Belum Terbentuk, DPRD Jepara Tetap Harus Jalankan Tugas

-Advertisement-

“Karena tempat kita juga masih minim, jadi belum kita tulis secara formal dan ada yang masih berada di rumah warga. Terpenting kita sudah mengetahui fosil itu, nanti langkah selanjutnya untuk mengajukan kompensasi terhadap penemu kepada Pemkab Kudus,” bebernya belum lama ini.

Menurutnya, 15 fosil temuan itu yang sudah terlaporkan ke pihak Museum Situs Purbakala Patiayam. Dimana kebanyakan fosil purba ditemukan langsung oleh warga, baik di lahan perhutani maupun lahan pertanian warga. Sebab, zona Situs Patiayam dari 100 persennya, 80 persen berada di lahan perhutani dan 20 persen sisanya di lahan warga.

“Temuan itu lebih dominan di formasi slumprit, lingkungan darat dengan temuan bovidae. Karena tahunnya yang jauh lebih terlihat. Beda dengan yang seperti kemarin yang kita temukan, gigi buaya, memang orang tertentu yang tahu bahwa itu fosil,” tuturnya.

Ia menyebut, lokasi fosil dominan ditemukan di lokasi Desa Terban, Kecamatan Jekulo. Selain itu fosil tersebut juga banyak ditemukan di Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo dan Desa Mangunrejo, Pati.

“Karena masa keemasan pada masa situs plestosen itu kan lokasi slumprit. Hampir rata-rata bisa dikatagorikan formasi slumprit itu 80 persen desa terban, 20 persen di wilayah timur, yakni Desa Gondoharum dan Mangunreja,” jelasnya.

Baca Juga: Jangan Sampai Ketinggalan, 10.000 Bungkus Air Salamun akan Dibagikan Malam Ini

Jamin menuturkan, fosil purba yang banyak ditemukan biasanya di musim kemarau hingga menjelang musim penghujan. Dimana musim tersebut, banyak aktivitas warga sedang menggarap lahan pertaniannya.

“Transisi banyak temuan itu saat musim kemarau ke penghujan. Karena saat kemarau itu warga mengharap lahan dengan mencangkul, lalu saat penghujan terguyur air, tanah mudah terkikis. Itulah masa-masa banyak temuan-temuan fosil yang ditemukan warga,” ungkapnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER