Junaedi, Petani Kudus yang Sukses Kembangkan Pertanian Melon Modern

BETANEWS.ID, KUDUS – Junaedi merupakan sosok petani pekerja keras yang kini menuai hasil jerih payahnya selama 15 tahun. Dia kini berhasil menjadi petani Kudus yang mengembangkan pertanian melon modern.

Pria berusia 36 tahun itu cukup berani dengan menambah lokasi green house Ravatar yang dikelolanya, walaupun lahan tersebut merupakan lahan sewa dari tanah bengkok Kelurahan Melati Lor, Kecamatan/Kabupaten Kudus.

Baca Juga: Usaha Ortu Bangkrut Tempa Abduh Jadi Pebisnis Seragam Sekolah yang Sukses

-Advertisement-

Terdapat dua green house yang ia tanami buah melon dengan jenis beranekaragam baik dari lokal maupun jenis luar negeri. Bahkan ada juga jenis yang terbilang langka atau jarang ditemui, khususnya di Kabupaten Kudus.

Jenis yang dimaksud adalah jenis melon Rangipo (jenis luar) dengan bentuk bulat dan ada garis seperti semangka. Jenis tersebut berhasil ditumbuhkan dengan target pangsa pasar bagus. Selain itu juga ada jenis seperti sweet net, new Century, Fujisawa, new Kirani, king show.

Junaedi mengatakan, dua lokasi green house yang dia miliki dengan luasan sekitar 1.400 meter persegi, dimana masing-masing lokasi green house 700 meter persegi. Untuk jumlah pohon di lahan tersebut, sebanyak 3.000 melon. Dengan pemasarannya yang dibuat wisata petik tersebut, mampu menarik pengunjung atau wisatawan.

“Alasan diperlebar, ya karena memang semakin banyak pengunjung yang berdatangan. Bahkan wisata petik sangat ditunggu-tunggu oleh para wisatawan, belum panen pun sudah banyak yang tanya. Sehingga saya memperlebar lokasi,” bebernya saat ditemui, Jumat (6/9/2024).

Ia mengaku, modal untuk membangun green house berbahan bambu sebagai tiangnya itu membutuhkan Rp60-70 juta dalam ukuran tanah 700 meter persegi. Meski begitu, pihaknya justru semakin makmur sebagai seorang petani.

“Karena dengan model green house ini bisa mengurangi hama menyerang tanaman. Sebelumnya saya petani melon konvensional, hama begitu banyak sehingga hasil juga berpengaruh. Kalau ini kan lebih efektif dan saat panen bisa dibuat wisata petik,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan adanya wisata petik tersebut juga mengangkat harga buah yang ditanamnya. Artinya jauh lebih mahal dari harga dipasaran. Sebab, pengunjung bisa memilih sesuai keinginan melon yang akan dipetiknya.

“Justru ini banyak pengunjung yang berdatangan. Kalau di sini kebanyakan ras China datang. Selain itu juga pelanggan dari berbagai daerah seperti Jepara dan Pati juga ada yang ke sini,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan dua green house yang ada, setidaknya panen yang berlangsung atau masa wisata petik akan jauh lebih lama. Menurutnya, bisa sampai satu bulan lebih masa wisata petik di tempatnya.

“Karena penanaman di sini dibuat tidak bersamaan. Jadi untuk panen tidak bebarengan dan bisa lama masa wisata petik di sini. Kalau sebelumnya sampai tiga pekan saja, ini ya bisa sampai satu bulan lebih,” imbuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER