Imbas Sungai Juwana Kering, Ratusan Nelayan Tradisional Nganggur

BETANEWS.ID, PATI – Sungai Juwana atau Sungai Silugonggo, kini kondisinya kering. Fenomena seperti ini, baru terjadi pada 2024 ini. Tahun-tahun sebelumnya  sungai tersebut tidak pernah kering meski musim kemarau.

Kondisi tersebut, berimbas terhadap aktivitas nelayan tradisional yang berhenti total. Sebab, sungai tempat untuk mencari nafkah mereka tak ada airnya lagi.

Lasno, salah satu nelayan asal Desa Mintobasuki mengatakan, karena nelayan tidak bisa lagi mencari ikan di Sungai Silugonggo, kini mereka menganggur.

-Advertisement-

Baca juga: Pertama dalam Sejarah Sungai Silugonggo Kering, Lasno: ‘71 Tahun, Baru Kali Ini Kehabisan Air’

Menurutnya, ratusan nelayan tradisional yang berasal dari beberapa desa di pinggiran Sungai Silugonggo, terpaksa harus menepikan perahunya hingga kondisi sungai terisi air lagi.

“Ya nganggur sekarang. Kerja serabutan lah. Kalau dihitung yang mencapai ratusan nelayan yang tidak bekerja. Mereka ini dari Desa Banjarsari, Mintobasuki, Bungasrejo, Mustokoharjo dan Gadingrejo,” ujar Lasno, Rabu (11/9/2024).

Ia menyebut, baru 2024 ini Sungai Silugonggo itu mengering hingga terlihat dasarnya. Tahun-tahun sebelumnya, volume Sungai Silugonggo tak pernah menyusut separah ini. Masih ada aliran air yang mengalir dengan volume cukup banyak.

“Ini paling parah 2024 ini. Sebelumnya tidak sampai seperti ini. Selama saya hidup, baru kali ini, 71 tahun Sungai Silugonggo kehabisan air,” ujarnya. 

Ia menduga, surutnya Sungai Juwana disebabkan karena beroperasinya Bendung Karet di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati. Bendungan proyek pemerintah pusat itu dikerjakan sejak 2023 dan selesai 2024. Tahun ini Bendung Karet pun mulai beroperasi.

Sebelum beroperasinya bendung karet, air masih mengalir di Sungai Silugonggo walapun musim kemarau. Namun, usai beroperasi, air di Sungai Juwana mulai menyusut dan mengering.

Baca juga: Pemilik Bangunan Rusak di Pinggir Sungai Silugonggo Minta Ganti Rugi Sepenuhnya

Hal senada juga disampaikan Pardi. Nelayan asal Desa Banjarsari ini mengaku sudah hmpir sebulan ini tidak lagi mencari ikan di sungai akibat airnya airnya menyusut.

“Sudah sekitar tiga minggu tidak lagi mencari ikan. Ini paling parah, sebelumnya tidak pernah seperti ini. Kalaupun kemarau masih ada airnya,” ucapnya.

Ia berharap, nasib nelayan tradisional seperti dirinya diperhatikan oleh pemerintah. Sehingga, kesejahteraan bisa terwujud.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER