Kondisi Politik Global Pengaruhi Iklim Ekspor Furnitur Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pengusaha Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Kabupaten Jepara, Antonius Suhandoyo mengatakan kondisi politik global turut mempengaruhi iklim ekspor furnitur di Kabupaten Jepara.

Lebih lanjut ia mengatakan kondisi politik global saat ini juga belum kondusif. Namun ekspor ke luar negeri sudah mulai berjalan membaik. Hal tersebut ditandai dengan mulai adanya pengiriman menggunakan kapal yang sudah secara reguler berjalan dengan baik.

Baca Juga: Pembangunan IKN Ternyata Libatkan Pengusaha Mebel Jepara

-Advertisement-

“Ini menjadi tanda yang baik. Di mana pergerakan perekonomian dunia mulai terlihat positif,” katanya pada Jumat (2/8/2024).

Ia berharap di akhir Agustus hingga awal September nanti, order dengan kuantitas yang cukup signifikan dari buyer-buyer reguler bisa turun. Untuk itu, saat ini para eksportir furnitur dan mebel Jepara tengah bersiap menghadapi momen tersebut.

Berdasarkan catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara, nilai ekspor furnitur dan mebel Jepara hingga Mei 2024, tembus 13 juta US dollar atau senilai Rp221 miliar. Barang-barang dari Kota Ukir itu diekspor ke lebih dari 50 negara di berbagai belahan benua.

Terpisah, Maskur Zaenuri, Sekretaris Jendral Himpunan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) HIMKI mengungkapkan, secara umum, ekspor furnitur dan mebel dari Jepara dan daerah-daerah lain saat ini masih cenderung menurun.

Ia menjelaskan, gejolak politik di timur tengah, yaitu perang antara Israel dan Palestina, membuat pengiriman terkendala. Jalur kapal di kanal Swiss diblokir dan diganggu.

Gangguan tersebut memaksa eksportir menempuh pelayaran semakin jauh dari jalur normal. Yaitu harus memutar ke Tanjung Harapan Afrika yang berimbas pada melebarnya waktu pengiriman.

“Biasanya untuk wilayah Asia misalnya, butuh waktu 30-34 hari pelayaran. Saat ini butuh waktu 56-70 hari,” kata Maskur.

Selain gangguan di jalur pelayaran, lanjut Maskur, eksportir juga harus berhadapan dengan mahalnya biaya perkapalan. Untuk ke Eropa misalnya, sebelumnya dibandrol dengan harga 1.300-1500 US dollar, kini melambung menjadi 9 ribu – 9.800 US dollar.

“Bayangkan saja, kenaikannya sudah 550 persen,” sebut Maskuri.

Baca Juga: PAD Jepara 2025 Ditarget Naik Rp89 Miliar Jadi Rp555 Miliar

Karena kondisi tersebut, akhirnya mayoritas furnitur dan mebel yang diekspor terpaksa ditunda pengirimannya. Maskur menyebut, penundaan itu pun untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.

“Semua masih menunggu situasi politik global membaik. Baik itu perang di Timur Tengah atau stabilitas politik di Amerika Serikat,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER