31 C
Kudus
Rabu, Juli 24, 2024

Cerita Ngatno Tak Pernah Absen Ritual Satu Sura di Rahtawu Sejak 1975

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah pertapa tampak melakukan ritual satu Sura (Muharram) di Petilasan Eyang Buyut Sakri, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Senin (8/7/2024). Selain di dalam petilasan, sebagian dari mereka juga ada yang menjalani ritual kungkum maupun mandi di Sendang Soko.

Di antara sejumlah pertapa tersebut, salah satunya adalah Ngatno (62). Warga Blora itu tak pernah absen bertapa setiap satu Sura di Desa Rahtawu. Tak sendiri, dia juga mengajak delapan anggota keluarganya yaitu istri dan anak.

“Setiap satu Sura selalu ke sini. Saya dari Blora datang bersama anggota keluarga sebanyak delapan orang. Setiap tahun selalu ke petilasan Eyang Buyut Sakri untuk memohon keberkahan dalam menjalani kehidupan setahun ke depan,” bebernya, Senin (8/7/2024).

-Advertisement-

Baca juga: Ritual Kungkum dan Bertapa di Petilasan Eyang Buyut Sakri Rahtawu saat 1 Sura

Ia menuturkan, menjalani ritual setiap satu Sura sudah ia lakukan sejak SD. Bersama sang ayah, ia diajarkan untuk melestarikan Budaya Jawa dengan mengingat leluhur dan memohon keberkahan hidup.

“Sudah sejak kecil, masih SD diajak orang tua, kira-kira tahun 1975 sudah diajak orang tua ke sini. Setiap tahunnya pasti ke sini untuk berdoa bersama. Karena berdoa itu bisa dilakukan di mana saja dan melalui perantara siapa saja,” ungkapnya.

Ngatno muda, pernah sampai melakukan ritual di banyak tempat di Desa Rahtawu, di antaranya petilasan Eyang Buyut Sakri, Eyang Narodo, ke Puncak 27 dan Puncak 29 di daerah Dukuh Semliro, Desa Rahtawu.

Di usianya yang saat ini menginjak 62 tahun, ia mengaku tak lagi ke puncak 27 dan puncak 29, lantaran kondisi fisiknya yang tak lagi kuat. Meski begitu, saat ini ia juga membawa anak dan istrinya ke sana untuk bersama-sama melakukan ritual dan doa bersama di dua tempat yakni di Petilasan Eyang Buyut Sakri dan Eyang Narodo.

Baca juga: Kades Rahtawu Targetkan Pemasukan Desa di Bulan Sura Capai Rp100 Juta

“Pertama dengan tujuan untuk melanjutkan perjuangan orang tua zaman dulu dan mengikuti jejak orang tua. Keduanya berdoa supaya keluarga, anak turun saya, melalui Eyang Sakri ini, supaya keselamatan dan rezeki, dimana saja dia kerja sehat wal afiat,” tuturnya.

Ia menambahkan, sebelum melakukan ritual di Petilasan Eyang Buyut Sakri, pihaknya mensucikan diri dengan Bermandi di Sendang Soko yang berada tak jauh dari petilasan Eyang Buyut Sakri. Hal itu ia lakukan agar lebih kusyuk dalam bertapa.

“Karena kita kan datang dari jauh (Blora), sehingga kita mandi terlebih dahulu, baru nanti kita masuk untuk berdoa di sana (petilasan Eyang Buyut Sakri),” imbuhnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER