31 C
Kudus
Sabtu, Juli 13, 2024

Sejarah Tenun Troso, Tenun Legendaris yang Masih Eksis hingga Kini (1)

BETANEWS.ID, JEPARA – Di tengah kekayaan budaya Indonesia, Tenun Troso muncul sebagai salah satu warisan yang tak ternilai dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Tenun Troso bukan sekadar kain, melainkan sebuah karya seni yang mencerminkan keterampilan, ketekunan, dan keindahan budaya tradisional.

Sejak ditemukan pada 1935, tenun Troso terus bertahan dari generasi ke generasi. Seiring berkembangnya zaman, pembuatan Tenun Troso mengalami beberapa perkembangan, terutama pada motif.

Berbagai motif Kain Tenun Troso yang siap dipasarkan. Foto: Ihza Miftahul Huda

Kepala Desa Troso, Abdul Basir, menjelaskan, awalnya Tenun Troso hanya kain tenun berwarna putih saja. Kemudian, pada 70-an, Tenun Troso memulai mengenal motif. Orang pertama yang membuat motif itu adalah Husain. Motif cipataanya itu bahkan terkenal hingga saat ini dengan nama motif bidang atau cemara.

-Advertisement-

Baca juga: Industri Tenun Troso Terancam Sulitnya Regenerasi Pengrajin, yang Muda Malas Belajar

Seiring berjalannya waktu, motif tenun yang hanya ada di bagian samping kain kemudian semakin bervariasi. Para pengrajin Tenun Troso semakin kreatif dalam mengkombinasikan warna hingga menjadi berbagi motif kain tenun yang cantik.

“Motif-motifnya semakin berkembang, kelebihan orang Troso adalah kemampuannya untuk mengikuti tren pasar, sehingga para produsen dapat merespons dengan cepat terhadap permintaan pasar,” ungkapnya.

Menurutnya, salah satu ciri unik dari Tenun Troso adalah motifnya yang tetap sama, baik dari sisi warna maupun bentuknya saat dibolak-balik. Hal ini karena dalam proses penenunan, pengrajin menggunakan teknik ikat dan minyak goreng sebagai pelumas pada benang.

“Ini mungkin adalah hasil eksperimen dari orang-orang Troso yang menemukan bahwa motif ini terlihat indah. Berbeda dengan sarung BHS yang jika dibalik akan berbeda,” ujarnya.

Baca juga: Sejarah Tenun Troso: Dikenalkan Keturunan Sunan Muria, Kini Jadi Warisan Budaya Tak Benda Jepara

Munculnya berbagai motif pada masa itu, membawa Tenun Troso pada masa keemasan. Peminat yang terus bertambah membuat para pengrajin kewalahan. Hingga akhirnya, para produsen setempat mengambil pekerja dari luar Jepara.

Pria yang akrab disapa Basir itu melanjutkan, managemen industri kain tenun di Desa Troso biasanya dilakukan di rumah-rumah warga. Ketika usaha industri kain Tenun Troso sedang ramai, para pengusaha setempat akan mengambil beberapa pekerja dari luar daerah.

“Bisanya dari luar desa yang masih warga Jepara. Tapi dulu banyak juga pekerja dari Undaan Kudus, bahkan ada yang dari Solo,” bebernya.

Redaksi
Redaksi
Beta adalah media online yang lahir di era digital. Berita yang disajikan unik, menarik dan inspiratif. Serta dikmas dalam bentuk tilisan, foto dan video.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER