Sambut Ramadan, Baratan Ratu Kalinyamat Angkat ‘Siti Inggil’

BETANEWS.ID, JEPARA – Tradisi Baratan sebagai wujud rasa syukur menyambut datangnya bulan suci ramadan kembali diadakan oleh masyarakat Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara.

Muhammad, Tokoh Masyarakat Desa Kriyan bercerita pada baratan tahun ini mengangkat tema “Siti Inggil”. Situs peninggalan pada masa Kerajaan Ratu Kalinyamat yang digunakan untuk menerima tamu-tamu keraton.

Baca Juga: PPP Unggul di Jepara, PKB Tersingkir dari Kursi Wakil Dewan

-Advertisement-

Pelaksanaan tradisi pada tahun ini menurutnya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana sebelum dimulainya pelaksanaan kirab Ratu Kalinyamat, sesepuh desa bersama perangkat dan masyarakat Desa Kriyan menggelar doa bersama bertempat di Masjid An-Nur.

Sebelum dimulainya pelaksanaan kirab, dilakukan penyerahan berupa apem, puli, dan hasil bumi oleh Pengurus Masjid Al-Makmur, Ahmad Jama’ah; Camat Kalinyamat, Sundari; dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Muh Eko Udyyono kepada tiga perempuan yang berperan sebagai srikandi Ratu Kalinyamat.

Seorang pemuda yang berada di balkon masjid kemudian menyalahkan petasan kembang api sebagai tanda dimulainya kirab.

Dibarisan pertama terdapat dua orang pemuda sapu jagat yang membawa sapu lidi kemudian dihentakkan ke jalan. Dimana menurut tradisi hal tersebut berfungsi untuk membersihkan apapun yang ada di depannya agar kirab berjalan lancar.

Kemudian dibelakangnya terdapat pemuda berpakaian jubah sebagai simbol dari ulama’, dan diikuti tiga perempuan srikandi Ratu Kalinyamat bersama prajuritnya.

Dibagian paling belakang terdapat rombongan anak-anak yang didampingi oleh orang tuanya membawa lampion impes sebagai salah satu ciri khas dalam pelaksanaan tradisi baratan.

Muhammad kemudian menjelaskan bahwa Siti Inggil diangkat sebagai tema baratan pada tahun ini dengan harapan, situs Cagar budaya yang statusnya saat ini sebagai tanah milik pribadi pada tahun depan dapat kembali pada pemerintah kabupaten.

“Siti Inggil, dulu sebagai tempat untuk menerima tamu-tamu keraton, sampai sekarang situsnya masih ada cuma karena sudah dimiliki warga, dengan mengangkat siti Inggil pada tahun ini harapannya tahun depan situs itu bisa kembali ke pemerintah,” katanya pada Sabtu (2/3/2024) malam.

Baca Juga: Rumah Sudah Dibongkar, Warga Pertanyakan Kelanjutan Normalisasi Sungai SWD II Jepara

Kepala Disparbud Jepara, Muh Eko Uddyono yang turut hadir dalam pelaksanaan tradisi Baratan mengatakan bahwa, saat ini pihaknya bersama Kepala Desa Kriyan sedang mengupayakan pengelolaan Siti Inggil.

“Siti Inggil memang sudah ditetapkan menjadi Cagar budaya. Dan saat ini bersama dengan pak petinggi sedang mencari cara, bagaimana mencari jalan keluar sehingga pengelolaan siti Inggil bisa maksimal. Terlebih itu statusnya tanah pribadi tapi sedang diusahakan bisa tidak kita kerjasama untuk pengelolaan,” katanya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER