BETANEWS.ID, JEPARA – Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Arwin Nor Isdiyanto mengatakan berdasarkan prediksi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), cuaca buruk di Kabupaten Japara masih akan berlanjut hingga satu minggu ke depan.
Lebih lanjut ia mengatakan, bencana alam yang berpotensi terjadi yaitu banjir, tanah longsor dan angin kencang. Untuk banjir, ia kini sudah menempatkan sejumlah relawan di beberapa titik Sungai SWD yang berpotensi meluap. Salah satu desa yang rawan dan berpotensi kebanjiran akibat luapan Sungai SWD yaitu Desa Batukali, Kecamatan Pecangaan.
Baca Juga: Hasil Penelitian Kemenkes Soal DBD Jepara Diperkirakan Keluar Dua Pekan Lagi
“Kita tetap berjaga-jaga limpahan dari Klambu (Purwodadi) karena Kudus, Terminal Kudus sudah tergenang. Kita tetap stand by monitor sampai saat ini,” katanya pada Kamis (14/3/2024).
Selain itu, BPBD juga tengah memantau tanggul-tanggul yang rawan jebol. Seperti di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri dan di Desa Kalipucang, Kecamatan Welahan yang beberapa hari lalu sudah jebol. Tanggul di dua wilayah itu kini sudah diperbaiki.
Menurutnya BPBD juga sudah memetakan wilayah rawan banjir dengan rincian, wilayah selatan di Desa Dorang, Mayong Kidul, Paren, Gedangan, Welahan, Kedungsarimulyo, Batukali, Gerdu, Kaliombo, Tedunan, Sowan Kidul, dan Sowan Lor.
Kemudian wilayah tengah di ruas jalan Tegalsambi, Teluk Awur, Semat, banjir perkotaan di wilayah Kota Jepara apabila intensitas hujan sangat tinggi, serta Mlonggo di wilayah Jambu hingga Karanggondang, dan Bondo. Sedangkan wilayah utara yaitu Desa Sumberrejo dan Clering.
Tidak hanya banjir, bencana tanah longsor menurutnya juga masih berpotensi terjadi. Adapun bencana tanah longsor yang sudah terjadi yaitu di Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling pada Rabu (13/3/2024). Tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut, hanya saja akses jalan terputus akibat material longsoran menutupi jalan.
Baca Juga: Pelayaran Dihentikan, 120 Wisatawan Masih Terjebak di Karimunjawa
Kemudian pada 9 Maret lalu juga terjadi tanah longsor di Desa Tempur. Wilayah yang berada di sekitar pegunungan Muria juga masih berpotensi mengalami tanah longsor. Untuk mengatasi bencana tersebut ia mengaku terkendala pada sarana dan prasarana (sarpras). Sehingga BPBD harus meminta bantuan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
“Kita bisanya ya, koordinasi dengan dinas PUPR, idealnya kalau sesuai aturan, alat-alat penanggulangan kebencanaan harus dipisahkan dengan alat-alat yang digunakan untuk rutin. Tapi kembali ke kemampuan keuangan daerah,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

