Terdampak Pandemi, Khamidun Bangkit Rintis Kedai Sate Kere yang Kini Laku Ratusan Porsi Sehari

BETANEWS.ID, JEPARA – Sembari menyiapkan pesanan pelanggan, Nur Khamidun (31) pemilik Kedai Sate Kere yang berlokasi di Jalan KH Moliki Nomor 2 atau biasa dikenal dengan Gang Mbelik, Kelurahan Pengkol, Kecamatan/Kabupaten Jepara berbagi cerita tentang awal mula merintis menu makanan khas dari Yogyakarta.

Ia dulunya merupakan seorang pegawai rekanan di salah satu Kantor Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Yogyakarta. Datangnya pandemi Covid-19, membuat perusahaan tempatnya bekerja harus mengurangi jumlah karyawan. Sehingga kemudian ia memutuskan untuk resign dan kembali ke kota kelahirannya, yaitu Kabupaten Jepara.

Pembeli sedang menyantap sate kerai di kedai yang beralamat di Gang Mbelik, Kelurahan Pengkol, Kecamatan/Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

Karena masih dalam keadaan pandemi dan sulitnya mendapatkan lowongan pekerjaan, ia kemudian mulai berjualan Sate Kere.

-Advertisement-

Baca juga: Rintis Usaha Modal Belajar dari YouTube, Tara Kini Bisa Jual hingga Seribuan Donat Sehari

“Saya di Jogja hampir 3-4 tahun, karena suka dengan Jogja, akhirnya waktu kembali ke Jepara cari pekerjaan susah karena masih covid, akhirnya jualan Sate Kere,” bebernya saat ditemui di Kedai Sate Kere miliknya, Sabtu (20/1/2024).

Keadaan pandemi yang membuat masyarakat tidak bisa beraktivitas di luar rumah dengan leluasa, membuat Khamidun bersama sang Istri harus berjuang untuk memasarkan Sate Kerenya dengan cara delivery order atau COD.

“Waktu Covid sangat ekstra pemasarannya, karena orang tidak bisa keluar kita layani COD. Sempet juga pindah lokasi dua kali, yang terakhir di sini,” tambahnya.

Kini, setelah empat tahun merintis usaha tersebut, ia tidak lagi melayani COD. Para pelanggannya sudah banyak yang datang langsung ke kedainya. Bahkan setiap jam makan siang, pengunjung yang tidak kebagian tempat makan juga rela menunggu demi mencicipi seporsi sate kere.

Sate kere sendiri, merupakan sate yang terbuat dari koyor atau urat sapi. Bagian tersebut biasanya menempel pada daging atau punggung tulang sapi. Karena memiliki tekstur yang keras, koyor akan direbus kurang lebih selama 6 jam sebelum ditusuk dan kemudian dibakar.

Baca juga: Sempat Nyerah, Dukungan Istri Bikin Ridwan Bangkit dan Kini Punya 3 Cabang Ayam Geprek Abah Gaul

“Sehari bisa habis sekitar tujuh kilogram koyor, cuma berapa tusuknya nggak pernah ngitung. Ya sehari bisa habis ratusan porsi lah,” ujarnya.

Ni’matun, salah satu pengunjung, mengatakan, ia sudah lama menjadi pelanggan sate kere. Selain harganya yang murah, menu tersebut menurutnya juga unik.

“Kalau sate biasanya kan pakai daging kambing, ini pakai koyor, enak sih rasanya. Koyornya juga empuk, apalagi makannya ditambah sama sup balungan jadi bikin seger,” katanya.

Editor:  Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER