BETANEWS.ID, JEPARA – Kedai Sate Kere yang berlokasi di Jalan KH Moliki Nomor 2 atau biasa dikenal dengan Gang Mbelik, Kelurahan Pengkol, Kecamatan/Kabupaten Jepara itu terlihat tidak pernah sepi pengunjung.
Saat jam makan siang, para pembeli yang tidak kebagian meja, bahkan rela antre demi mencicipi seporsi sate kere yang biasanya dipesan dengan menu pelengkap berupa asem-asem balungan.

Sembari menyiapkan pesanan pelanggan, Nur Khamidun (31), Pemilik Kedai Sate Kere, bercerita bahwa menu tersebut terinspirasi dari sate kere khas Jogja. Berdasarkan cerita, keberadaan sate tersebut berawal karena pada masa penjajahan Belanda, penduduk Pribumi tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi daging.
Baca juga: Wingin Up Korean Fried Chicken, Rasakan Sensasi Makan ala Drakor di Jepara
Bagian lain dari daging tersebut yang kemudian diolah oleh warga pribumi dan dikenal dengan nama “Sate Kere” hingga sekarang.
“Di Jogja sendiri saya lihat juga sudah jarang. Kalau saya bawa ke Jepara akan jadi menu baru di bidang kuliner,” katanya, Sabtu (20/1/2024).
Sate kere sendiri, merupakan sate yang terbuat dari koyor atau urat sapi. Bagian tersebut biasanya menempel pada daging atau punggung tulang sapi. Karena memiliki tekstur yang keras, koyor akan direbus kurang lebih selama 6 jam sebelum ditusuk dan kemudian dibakar.
Menurut Khamidun, bumbu sate kere memiliki ciri khas dibanding sate kambing, karena lebih kaya akan rempah. Sate kere juga memiliki cita rasa cenderung manis yang berasal dari gula merah. Dalam satu tusuk sate kere, berisi empat potongan koyor yang disipi satu potongan daging. Hal tersebut menurutnya untuk menyesuaikan lidah orang Jepara.
“Untuk bumbunya kita juga punya ciri khas, kita pakainya bumbu kacang,” ujarnya.
Baca juga: Dapure Mba’Berto, Jujugan Pecinta Seafood di Jepara yang Harganya Mulai Rp20 Ribu Saja
Satu porsi sate kere dijual dengan harga Rp10 ribu berisi tujuh tusuk sate. Selain itu juga ada menu paketan yang sudah lengkap dengan nasi dan es seharga Rp15 ribu.
Selain menjual menu sate kere, dia juga menyediakan menu pelengkap seperti asem-asem balungan, koyor mercon, dan mie ayam hot plate. Untuk varian harga dari menu pelengkap, masing-masing dijual Rp10 ribu per porsi. Namun, untuk mie ayam hot plate Rp16 ribu per porsi.
“Untuk jam bukanya mulai dari Jam 12 siang, sampe habis sih. Kadang sore kadang maghrib masih buka kalau masih ada,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

