Belajar Otodidak, Siapa Sangka Bisnis Lampion Suprianto Bertahan 22 Tahun

BETANEWS.ID, JEPARA – Supriyanto (55) adalah salah satu dari empat pengrajin lampion yang masih tersisa di Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara. Siapa sangka, ia dapat bertahan selama 22 tahun menjadi pengrajin lampion, padahal dia hanya belajar otodidak.

Desa Purwogondo, menurut Supriyanto dulunya memang banyak yang menjadi pengrajin lampion namun bentuknya berupa Impes. Yaitu lampion berbentuk silinder dan memiliki tekstur berkerut.

Baca Juga: Awalnya Coba-Coba, Pipit Tak Menyangka Kedai Bakminya Kini Laris Diburu Pembeli 

-Advertisement-

Namun, sekitar tahun 2000-an generasi penerus di desanya mulai mengembangkan lampion dengan bentuk lain.

“Jadi dulu modalnya ya beli lampion yang bentuknya kayak gini (berbentuk Masjid), terus tak preteli (dilepas bagiannya satu per satu), habis itu saya tiru. Jadi ngga ada belajar dari siapa gitu ngga ada,” katanya saat ditemui di kediamannya, Jalan Kromodiwiryo, Gang Kemasan, Dukuh Krajan, Rt 03 Rw 1, Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jum’at (23/2/2024).

Saat pertama kali membuat lampion, dulunya ia hanya menggunakan gunting untuk membuat pola dasar dan kerangka lampion. Namun kini, ia sudah mulai beralih menggunakan mesin cetakan yang sudah otomatis membentuk masing-masing pola kerangka dari lampion yang akan ia buat.

“Saya jualnya kan ada enam bentuk, ya sekarang cetakannya ada enam. Kalau dulu kan masih pakai gunting itu lama, dan hasilnya ngga bisa rapi,” jelasnya.

Dalam satu tahun, ia hanya membuat lampion di dua musim. Pertama, pada saat baratan atau pesta lampion yang diadakan oleh sebagian masyarakat Jepara pada malam Nisfu Sya’ban atau 15 hari menjelang Bulan Ramadhan.

Kedua, pada saat momen tradisi takbir keliling di Kabupaten Kudus. Untuk menyiapkan pesanan lampion di dua musim yang waktunya saling berdekatan tersebut, ia biasanya mulai menyiapkan bahan dan kerangka lampion sejak empat bulan sebelumnya.

Baca Juga: Kisah Mahasiswa Semester Tiga Nekad Rintis Usaha Angkringan untuk Biayai Kuliah 

Sedangkan di luar dua momen tersebut, ia dan istrinya, Kholifah (50) setiap harinya bekerja sebagai penjual es di Pasar Kalinyamatan, Jepara.

“Kalau ngga bikin lampion setiap harinya dagang es di pasar. Tapi kalau udah musim kayak gini (mendekati Bulan Ramadhan) biasanya gantian sama istri jualan di pasar. Tapi nanti kalau puasa, udah full bikin lampion,” katanya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER