31 C
Kudus
Jumat, Februari 13, 2026

Mengenal Athaya, Dalang Perempuan Cilik Asal Margorejo Pati

BETANEWS.ID, PATI – Perempuan kecil itu duduk bersila di atas sebuah kursi panjang yang berada di ruang tamu rumah milik kakeknya. Sambil menghadap menghadap tembok, ia kemudian mengambil tiga buah wayang kulit yang berbahan duplex.

Tiga wayang dengan karakter Antareja, Werkudara dan Buto itu, kemudian dimainkan oleh bocah bernama Athaya Gati Kirana.

Baca Juga: Cyndo Lumempo Romantisasi Potensi Pecinan Semarang Sebagai Kawasan Wisata

-Advertisement-

Diawali dengan Suluk atau tembang pembuka, bocah mungil itu terlihat cukup lincah memainkan wayang di tangan kanan dan kirinya. Sabetannya, gerakan memainkan wayang cukup gesit.

Tiga wayang berbahan duplex itulah yang hampir setiap hari digunakan untuk berlatih oleh Athaya di rumah. Karena baru itu karakter tokoh wayang dimiliki saat ini.

Sudah sejak lama sebenarnya ia jatuh cinta terhadap kesenian tradisional tersebut. Namun, baru sekitar empat bulanan ini ia serius untuk mendalami dunia perwayangan yaitu sebagai dalang.

Ia kemudian berlatih secara rutin dua kali sepekan di Sanggar Seni Laksono Laras di Desa Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, pimpinan Ki Eko Wisnu Prilaksono.

Di sana, ia bergabung dengan bocah-bocah seusianya yang juga berlatih sebagai dalang. Namun, hanya dia satu-satunya perempuan yang belajar sebagai dalang di sana.

Selama empat bulan latihan ini, ia sudah pernah satu kali tampil bersama teman-temannya dalang cilik dalam acara memperingati Hari Wayang Dunia dan Hari Wayang Nasional. Pada kesempatan itu, ia membawakan lakon Begawan Ciptaning.

“Ini menceritakan tentang Buto yang memaksa menikahi Dewi Suprobo. Kemarin itu yang tampil ada sembilan dalang, termasuk saya, ” ujar Athaya, ditemui di rumah neneknya di Desa Margorejo, Kecamatan Margorejo, Pati, Sabtu (9/12/2023).

Ia menyebut, bulan ini dimungkinkan akan tampil lagi. Dirinya berharap, penampilannya akan lebih maksimal lagi dan memiliki jam terbang yang lebih banyak.

Menurutnya, tidak ada kendala berarti ketika berlatih menjadi seorang dalang. Yang agak sulit katanya memainkan tokoh Buto Cakil.

Athaya berharap, nantinya bisa menjadi seorang dalang yang terkenal. Ia pun ingin kesenian tradisional itu tetap lestari.

“Saya ingin melestarikan budaya Jawa. Makanya saya tertarik menjadi seorang dalang wayang,” ungkap bocah yang masih duduk di kelas 5 SDN Pati Kidul 1.

Dari sekian tokoh pewayangan, menurutnya yang menjadi favorit adalah Betara Guru dan Betara Ismoyo. Tokoh itu disebut memiliki karakter yang bijak dan bisa mengatur dunia.

Sementara itu, Endang, nenek dari Athaya sangat mendukung keinginan cucunya itu untuk menjadi seorang dalang. Meskipun sebenarnya ia keberatan dengan cita-cita Athaya.

“Sebenarnya saya keberatan. Saya ingin Mbak Athaya ini menjadi polisi atau lainnya. Tapi kalau memang pilihannya sudah mantap, tentu saya sangat mendukungnya,” ungkap putri dari Aditya Galih Wicaksono.

Ia pun menyebut, kalau bakat Athaya sebagai dalang tersebut ada keturunan dari sang kakek buyutnya yang juga seorang dalang.

Baca Juga: Teater Minatani Sukses Pentaskan Monolog di Balai Budaya Rejosari

Ia berharap, cucunya yang sudah ditinggal ibunya meninggal ketika masih TK itu, bisa menjadi seorang dalang yang terkenal.

Untuk diketahui, wayang tak sekadar seni dan budaya. Wayang adalah sebuah seni pertunjukkan Indonesia yang telah diakui dunia karena keunikan yang dimilikinya. UNESCO pada 7 November 2003 juga telah menobatkan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur asli Indonesia.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER