BETANEWS.ID, DEMAK – Tingginya harga gabah yang mencapai angka Rp7 ribu di tingkat petani, menjadi berkah tersendiri bagi petani di Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak. Pada masa tanam padi (MT 1) ini petani meraup banyak keuntungan dari hasil panennya.
Hal itu diungkapkan salah seorang petani Kusdi (56). Padi berumur 90 hari itu, ia jual dengan harga Rp700 ribu per kuintal. Dengan lahan berukuran 5000 meter atau setengah hektare, ia mengaku dapat menghasilkan 2,5 ton sampai dengan 3 ton gabah.
Baca Juga: Bawaslu Kaji Tabloid Prabowo Gibran yang Tersebar di Demak, Ini Hasilnya
“Pokoknya awal kemarin tiga bulan sekitar Agustus sudah tanam. Di Demak panen duluan,” katanya saat ditemui betanews.id, Senin (11/12/2023).
Menurutnya, pengajuan jadwal MT 1 sengaja dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen saat cuaca ekstrem. Selain itu, padi-padi yang sudah menguning segera dipanen untuk menghindari serangan dari hama burung dan wereng.
“Nggih (gabahnya) lumayan. Istilahnya barangnya (kualitas) fifty fifty lah, tengahan. Soalnya keterak cuaca hujan angin kan ambruk, jadi padinya ada yang kurang bagus, harganya bisa melorot,” ujarnya.
Kusdi mengaku baru tahun ini, harga gabah dari petani bisa mencapai Rp7 ribu per kilogram. Tidak seperti musim tanam biasanya yang hanya mampu terjual Rp5 ribu per kilogram.
“Kalau tidak ada saingannya itu harganya lebih menunjang. Tapi jika panennya sama-sama harga menurun. Ini istilahnya yang pertama di Demak,” terangnya.
“Di sini itu setahun tanamnya dua kali, bulan Januari, Februari, Maret sering banjir jadi dibiarkan,” imbuhnya.
Baca Juga: Satu Desa di Kabupaten Demak Masih Butuhkan Dropping Air
Sementara itu, Penebas asal Kudus Ulin (24) rencananya akan mengambil 20 ton gabah di Desa Ketanjung. Ia menyebut, harga gabah saat ini bisa saja goyah karena harga beras di pasaran kembali normal.
“Kemarin harga Rp7.700 di Jepara bulan November sekarang turun. Kalau nanti ini selesai ambil Jetak Kudus dan Nalumsari Jepara. Demak setelah ini ke Desa Undaan Lor baru mulai panen,” paparnya.
Editor: Haikal Rosyada

