BETANEWS.ID, KUDUS – Toples-toples kaca dengan isian bermacam-macam mulai dari kolang-kaling hingga cincau tersebut terlihat berjejer di atas gerobak bertuliskan Es Campur Sangko Kang Jan. Toples itu satu demi satu dibuka oleh Kasmijan saat ada pembeli yang mampir di warungnyayang berada di di Jalan Museum Kretek, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Bagi Kasmijan, warung itu merupakan jalan satu-satunya menjemput rezeki. Makanya, sebisa mungkin ia akan tetap mempertahankan usaha tersebut meski pada perjalanannya tak pernah mulus. Bahkan dalam ceritanya, ia pernah dicurangi oleh karyawannya sendiri.

Pada awal jualan 14 tahun lalu, Kasmijan mendirikan warung di depan DPRD Kudus selama kurang lebih empat tahun yakni sejak 2006. Setelah itu, ia memutuskan pindah tempat ke Getas Pejaten sejak 10 tahun lalu hingga sekarang.
Baca juga: Kisah Jatuh Bangun Endro di Bisnis Ukir Jepara: Pernah Jaya, Dihantam Pandemi, Kini Bangkit Lagi
“Yang menjadi ciri khas warung es campur sangko adalah siropnya, karena sirop yang saya buat alami, sehingga tidak mengandung bahan pengawet,” ucap laki-laki berusia 50 tahun itu, Selasa (2/10/2023).
Kasmijan menjelaskan, dalam satu porsi es campur berisi kolang-kaling, agar-agar, tapai singkong, nangka, degan, dan sirop. Es tersebut bisa dinikmati di tempat ataupun dibungkus untuk dibawa pulang dengan harga Rp5 ribu.
“Kalau pendapatan tidak tentu dalam sehari, yakni sekitar Rp350-400 ribu kalau hari biasa, sedangkan saat hari libur bisa Rp600-700 ribu/hari,” tuturnya
Editor: Ahmad Muhlisin

