BETANEWS.ID, JEPARA – Sunarto tampak cekatan melayani setiap pembeli yang mampir ke warung es kelapa muda miliknya di di depan gang Jalan Alternatif Welahan-Mayong, Kabupaten Jepara. Es yang disajikan dalam gelas itu terlihat menyegarkan saat dinikmati di tengah cuaca yang terik.
Es yang disajikan dengan memecah kelapa secara langsung itu memang jadi salah satu jujukan warga yang kehausan. Apalagi, harganya juga cuma Rp5 ribu, yang tentunya sangat ramah kantong siapapun.

Menurut Sunarto, sejak berjualan es 50 tahun lalu, musim kemarau memang bisa dibilang jadi momen mengeruk keuntungan. Meski harus berpindah-pindah tempat, nyatanya ia terus bertahan di bisnis yang telah jadi ladang rezekinya sejak SMP itu.
Baca juga: Segar Manisnya Es Doger Priangan di Cendono Kudus Ini Jadi Penolang Saat Cuaca Panas
Sunarto memulai jualan es degan di Jakarta pada 1988. 10 tahun berelang saat terjadi krisis moneter, ia terpaksa kembali pulang ke daerah asalnya yaitu Jepara, sebab kelapa muda naiknya terlalu tinggi sedang harga jualnya tak bisa naik.
“Dulu waktu di Jakarta beli kelapa muda harganya Rp500, kita jual Rp700. Nah, pada saat mulai terjadi krisis moneter, harga kelapanya naik jadi Rp700 tapi kita jualnya tetap Rp700. Nah, lama-lama itu harga terus naik, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk pulang Jepara,” katanya, Sabtu (2/9/2023).
Saat pulang kampung itu, ia melihat belum banyak yang menjual es kelapa muda, sehingga ia kemudian memutuskan untuk kembali meneruskan usahanya saat dulu di Jakarta. Selain menjual es kelapa muda, ia juga menjadi agen yang menjual kelapa muda bagi para pedagang lainnya.
Ia bercerita bahwa dulu lokasi tempat ia berjualan berada di samping Kantor Pos Welahan. Namun, tempat tersebut merupakan tanah warisan yang harus dibagikan kepada tiga saudaranya.
Baca juga: Musim Kemarau Pembawa Berkah, Ema Bisa Jual Ratusan Porsi Es Tiap Hari
“Sedangkan kalau dibagi tiga, itu nanti jadinya kecil-kecil dan saya nggak bisa jualan. Akhirnya saya ambil pinjaman ke Bank Danamon saat itu, untuk beli tanah warisan milik saudara, istilahnya buat ganti tanah milik mereka lah. Tapi baru satu tahun malah usaha saya turun, daripada rumah saya disita akhirnya saya jual aja buat nutupin utangnya itu,” katanya.
Karena rumahnya sudah dijual, ia dan keluarganya kemudian tidak memiliki tempat tinggal dan terpaksa harus tinggal di rumah milik orang tua Sunarto.
“Tetapi kemudian waktu terus berjalan, usaha saya bisa bangkit lagi, saya terus bikin rumah sendiri, dan bisa menyekolahkan ke tiga anak saya,” ungkapnya di warung yang buka setiap hari mulai pukul 5.00 – 17.00 WIB itu.
Editor: Ahmad Muhlisin

