BETANEWS.ID, PATI – Sejumlah warga dengan spanduk melakukan aksi protes. Mereka berjalan mendekat ke arah barisan kepolisian untuk menyampaikan aspirasinya dengan berteriak lantang.
Sembari meneriakkan tuntutan, mereka terus mendekat. Hingga gesekan antara warga dan aparat kepolisian pecah akibat tuntutan warga tidak didengar.
Baca Juga: Terdampak Kekeringan, Agnes Terpaksa Gunakan Air Keruh untuk Mandi hingga Mencuci
Awalnya hanya aksi dorong antarkedua belah pihak. Namun semakin lama aksi mereka kian memanas dengan aksi lempar batu dan benda tumpul lain.
Sementara, aksi balasan juga dilakukan oleh barisan kepolisian. Menggunakan water canon kepolisian berusaha meredam aksi anarkis para warga yang marah.
Kemarahan para warga dalam aksi demontrasi tersebut bukanlah sungguhan. Aksi saling lempar dan dorong di Halaman Stadion Joyokusumo (25/9/2023) merupakan skema yang ditunjukkan Polresta Pati dalam latihan pengamanan konflik sosial.
Kapolresta Pati Kombes Pol Andhika Bayu Adhittama mengatakan, sebanyak 700 personil gabungan dalam simulasi pagi itu.
Mereka yang merupakan anggota Polresta Pati sebanyak 500 personel. Sementara sisanya merupakan prajurit TNI, Satpol PP dan Dishub.
“Kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan personel dalam penanganan konflik sosial, maupun antisipasi gangguan keamanan menjelang Pemilu 2024,” ujar Kombes Pol Andhika dalam rilisnya.
Kapolresta menambahkan, dalam simulasi ada dua tingkatan yang sedang dilatih untuk diantisipasi. Seperti penanganan situasi rawan hingga situasi berubah menjadi sangat rawan.
Baca Juga: Ratusan Anak di Pati Dikenalkan Kesenian Tradisional Wayang Potehi
Salah satunya situasi sangat rawan yang digambarkan melalui melalui tindak penjarahan. Dari gambaran tersebut dirinya menegaskan kepolisian telah menyiapkan sejumlah skema untuk meredam konflik di masyarakat.
“Meski simulasi hingga proses penjarahan, tetapi potensi konflik di Pati masih aman dan kecil kemungkinan,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

