BETANEWS.ID, DEMAK – Ratusan hektare kolam budi daya ikan air tawar di Kabupaten Demak kekurangan air saat kemarau. Akibatnya, produktivitasnya diprediksi turun hingga 20 persen.
Kepala Bidang (Kabid) Budi Daya Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak, Siti Sunarti, mengatakan, terdapat 543.643 meter persegi kolam milik 1.201 pembudidaya ikan di Demak telah mengalami kekeringan di musim kemarau. Menurutnya, jumlah yang besar itu lantaran kondisi kemarau tahun ini lebih kering karena dipengaruhi adanya El Nino.
“Kami telah meminta kepada BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Demak untuk disuplai tangki-tangki sehingga budi daya lele tetap bisa beraktivitas,” katanya, di kantor DKP Demak, Kamis (24/8/2023).
Baca juga: Sistem Wanamina Jadi Penyelamat Petambak Demak dari Terjangan Rob
Akibat dampak kekeringan itu, ia memperkirakan penurunan produktivitas pembudidaya ikan air tawar mencapai 20 persen. Meksipun begitu, ia belum mendata detail penurunan ikan selama kemarau.
Menurutnya, data Januari-Juni 2023, jumlah produksi ikan tawar sebanyak 19.842.904 kilogram, dengan rincian nila 890.840 kilogram, lele 18.911.602 kilogram, ikan mas 12.191 kilogram, dan gurame 28.271 kilogram.
“Itu pengurangan produksinya kan hanya satu siklus saja, diperkirakan 20 persen mengalami penurunan. Mayoritas di ikan air tawar terutama lele,” ujarnya.
Baca juga: 74 Persen Tambak di Demak Terkena Rob, Kerugian Ditaksir Capai Rp14,2 Miliar
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, ia menyarankan pembudidaya ikan untuk beralih ke kolam terpal dan mengurangi produksi penebaran benih selama kemarau.
“Kami menyarankan untuk membuat kolam dari terpal sehingga bisa menghemat air, tidak langsung hilang. Kemudian untuk mengurangi persentase penyebaran bibit,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

