Seblak Mbak Zum Dulu Cuma Laku Rp30 Ribu Sehari, Kini Jutaan Rupiah

BETANEWS.ID, JEPARA – Ditemui di kediamannya, Desa Pulodarat Rt 19/Rw 2, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Zumairoh (39) dan suaminya Solikin (49) berbagi cerita awal mula mereka merintis Seblak Mbak Zum.

Kedai seblak yang memiliki panjang kurang lebih 50 meter persegi tersebut, mulai dibuka tahun 2020 pada saat awal mula terjadinya pandemi Covid-19. Solikin, sang suami yang dulunya bekerja sebagai ahli tukang kayu di Daerah Indramayu, Jawa Barat karena adanya pandemi membuat ia tidak bisa kembali bekerja di tempat tersebut.

Baca Juga: Kisah Jatuh Bangun Endro di Bisnis Ukir Jepara: Pernah Jaya, Dihantam Pandemi, Kini Bangkit Lagi

-Advertisement-

Sehingga ia dan sang istri yang memiliki hobi memasak, memutuskan untuk membuka warung seblak. Ia berbagi cerita bahwa pada saat awal berjualan, seblak buatannya masih dijual dengan harga Rp5 ribu per porsi. Dalam sehari ia pernah hanya mendapat uang Rp30 ribu.

“Dulu kita buka seblak ini dari nol, dari mulai nggak ada apa-apa nya, dulu kursinya cuma dua, di bawah pohon mangga, belum ada kanopi nya seperti sekarang. Kalau hujan itu paling sedih, karena sering nggak laku kemudian di buang,” ungkapnya.

Kemudian Solikin, suaminya mengikuti pelatihan Pra Kerja yang diadakan oleh Kementrian Ketenagakerjaan (Kemnaker RI). Ilmu yang ia peroleh dari pelatihan tersebut kemudian ia prakktikkan dengan mulai memposting seblak buatannya di berbagai komunitas di Facebook.

Selain itu ia juga mulai membenahi kedai seblaknya agar diminati oleh kalangan anak-anak muda. Basicnya sebagai tukang kayu ia manfaatkan untuk membangun secara perlahan kedai seblak miliknya. Ia juga berbagi cerita kunci keberhasilan dari kedai seblak miliknya.

“Pokoknya laku nggak laku harus tetep buka, biar kalau ada pembeli yang misalnya sudah jauh-jauh kesini nggak kecewa. Jadi memang kita usahakan selalu buka tiap hari,” kata Solikin.

Selain itu ia juga bercerita bahwa di awal ia merintis usaha, setiap hari tidak pernah berhenti untuk memposting jualannya di komunitas Facebook. “Mau nggak ada yang lihat juga pokoknya tiap hari jangan berhenti posting, jadi kalau sehari ada yang komen satu aja, itu kita juga udah seneng,” tambahnya.

Kini setelah tiga tahun berjalan, ia dan istrinya bisa memiliki 15 orang karywan dan enam diantaranya dikhususkan untuk bagian memasak. Mereka yang memasak pun juga diberi bagian yang berbeda-beda dalam melayani pembeli.

Baca Juga: Perjuangan Berat Pengibar Bendera, Hadapi Arus untuk Kibarkan Merah Putih di Sungai Juwana

“Buat yang makan di kedai langsung beda, yang melayani grab gojek beda, yang melayani pesanan WA juga beda, biar mereka waktu datang kesini nggak nunggu lama,” katanya.

Dalam sehari, ia dan istrinya mampu meraih omset mencapai Rp9 -10 Juta per hari. Kedai seblaknya dibuka mulai pukul 10.00 – 21.00 WIB dan selalu buka setiap hari kecuali di tanggal 28 setiap bulannya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER