BETANEWS.ID, KUDUS – Di tengah gempuran toko online, Abdul Khafid tetap konsisten dan istiqomah untuk berjualan layangan di pinggir jalan. Barisan layangan di tepi Jalan KHR Asnawi, Desa Bangkalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus adalah tamengnya dari gempuran yang makin hari makin menjadi.
Saat ditemui Betanews.id, lapak layangan milik Khafid masih lengang, tak seramai tahun-tahun sebelumnya, tahun di mana toko online dan marketplace menjamur seperti sekarang ini.
Baca Juga: Kisah Joko Elysanto, Pejuang Kelestarian Aksara Jawa yang Hidup Menantang Kemapanan
“Warga saat ini lebih memilih membeli di toko online. Sehingga hal itu mempengaruhi penjualan dan kebanyakan pembeli banyak yang membandingkan harga antara online dan barang yang saya jual,” ungkapnya, Jumat (11/8/2023).
Menurutnya, pembelian yang praktis dan tidak ribet di toko online membuat pembeli perlahan beralih.
“Sekarang ini untuk pembelian satu buah untuk online kan dilayani. Tidak seperti dulu saat membeli harus partai besar. Tak hanya itu, pembeli sekarang maunya kan praktis. Pesan barang tunggu beberapa hari, barang sampai rumah,” tuturnya.
Untuk menyiasati hal tersebut, pria berusia 51 tahun itu melakukan pemasaran yang bisa menarik daya minat pembelinya, yakni dengan mencari motif dan model lain, sehingga tidak sama dengan apa yang dijual di online.
“Kalau modelnya beda dan gambar unik dari layangan ini kan bisa saja menarik pembeli. Mungkin hal itu yang bisa saya lakukan untuk berjualan menghabiskan stok layangan ini,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, barang maupun layangan yang dibawanya itu merupakan barang sisa dari tahun sebelumnya yang belum terjual. Hal itu membuktikan, bahwasanya penjualan secara door to door mainan anak-anak saat ini kalah dengan penjualan secara online.
“Bahkan harga juga menjadi permasalahan yang diperdebatkan sebagai perbandingan. Saya rasa untuk harga yang dijual di online dan offline kurang lebih hampir sama. Namun sekarang ini pembeli banyak yang menawar, tidak seperti dulu-dulu,” bebernya.
Baca Juga: Awalnya Kerjaan Sampingan, Perabotan Anyaman Bambu Ini Malah Jadi Jalan Rezeki Keluarga Jumadi
Meski begitu, pihaknya hingga saat ini terus berjuang melakukan aktivitasnya sehari-hari sebagai penjual musiman mainan anak-anak. Tak hanya itu, ia juga sebagai distributor mainan anak-anak.
Menurutnya, sejak berjualan tiga hari lalu, di mulai hari Rabu (9/8/2023), Khafid baru sanggup menjual 25 layangan. Itupun yang banyak terjual layangan plastik dengan harga Rp 10 ribu.
Editor: Haikal Rosyada

