BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan bambu terlihat di teras rumah muilik Jumadi (58) dan Sunipah (56) di Desa Jepang RT 02 RW 04, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Mereka tampak berbagai peran mengerjakan perabotan rumah tangga dari bambu.
Sehari-hari, pasutri itu memang lebih banyak bergelut dengan bambu. Menurut Sunipah, usaha tersebut mereka rintis sejak kena Pemutusan Hubungan Kerja dari salah satu pabrik di Kudus.

“Saya dulu awalnya kerja di Colombo bersama suami, lalu Colombo bangkrut saya pindah ke Djarum dari tahun 1993. tahun 2022 kena PHK karena sakit,” jelas ibu dua anak tersebut, Jumat (4/8/2023).
Baca juga: Dari Kerajinan Bambu, Pasutri di Jepang Ini Bisa Sekolahkan Anak hingga Beli Tanah
Hal sama juga menimpa Jumadi. Ia awalnya juga kerja di PT Pura sebelum kena PHK pada 2020 lalu. Nasib yag sama itu tak melunturkan semangat mereka untuk merintis bisnis hingga bisa menjadi jalan rezeki menghidupi keluarga.
“Belajar anyam dari kelas satu SD, untuk membantu orang tua memenuhi kebutuhan. Jadi saya coba kerja buat anyaman dari bambu ini,” ungkap perempuan sebelas bersaudara itu.
Usaha anyaman bambu tersebut dulunya adalah pekerjaan sampingan mereka. Usaha itu sudah berjalan sejak 2000.
“Mulai tahun 2000 saya usaha sampingan anyaman, saya jual keliling ke desa-desa saat hari libur, untuk biaya sekolah anak,” beber dia.
Baca juga: Hebat! Kerajinan Bambu Buatan Warga Rejosari Demak Ini Tembus Pasar Amerika Serikat
“Setelah PHK saya dan istri mulai fokus berdagang anyaman, karena mengingat anak-anak yang sudah lulus kuliah dan bekerja, saya dan istri memilih berdagang anyaman seadanya untuk kebutuhan sehari-hari saja,” beber dia.
Jumadi menambahkan, dirinya saat ini memang khusus pembuatan Irek bambu. Untuk produk selain irek, Ia biasanya membeli dari pedagang lain untuk dijual kembali, seperti, tampah, caping, sapu cemara, dan kandang ayam.
Biasanya Jumadi menjual anyamannya keliling desa-desa. Sedangkan Sunipah menjualnya ke pasar-pasar seperti, Pasar Wates, Pasar Baru, Pasar Kliwon, Pasar Puri Pati, dan Pasar Bareng. Dari usaha menjual anyaman, mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus kuliah, dan mampu membeli tanah untuk gudang penyimpanan anyaman.
Editor: Ahmad Muhlisin

