BETANEWS.ID, KUDUS – Istri Bupati Kudus, Mawar Hartopo kehilangan kucing peliharaanya. Gara-gara itu, istri orang nomor satu di Kudus itu sampai galau dan tak doyan makan. Bahkan, jika teringat dengan kucing kesayangannya itu, Mawar bisa berlinang air mata.
Sederet kesedihan dan kegalauan istri Bupati Kudus yang hanya kehilangan kucing memang terdengar lebay dan naif. Namun ternyata, bagi mereka penyayang kucing, menangis dan galau ternyata adalah hal lumrah ketika hewan kesayanganya itu hilang atau mati.
Sebab hal sama juga dialami oleh Nisya. Warga Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengaku sudah lama suka dengan kucing, hingga ia pun memutuskan memelihara hewan mamalia karnivora dari keluarga Felidae tersebut.
Baca juga: Demi Bisa Temukan Kucing Kesayangan, Mawar Hartopo Minta Tolong Orang Indigo
Saking suka dan sayangnya kepada kucing-kucingnya tersebut, ketika ada yang mati ia pun akan menangis, walaupun akhirnya tetap mengihklaskannya.
“Kalau ada kucing saya yang mati, saya pasti menangis. Teringat memori kenangan-kenangan pas main bersama,” ujar Nisya kepada Betanews.id dalam obrolan santai belum lama ini.
Hal senada juga diungkapkan oleh penyayang kucing lainnya, Yani. Warga Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus tersebut juga akan sedih dan menangis jika ada kucingnya yang mati. Bahkan, dulu ketika salah satu kucingnya mati, yang menangis tidak hanya dirinya, tapi ayahnya juga turut menangis.
“Ya tetap menangis, kan merasa sedih kehilangan. Bahkan yang menangis tidak hanya saya tapi juga bapakku,” bebernya.
Baca juga: Kucing Hilang, Mawar Hartopo Galau, Tak Enak Makan dan Sering Berlinang Air Mata
Kesedihan mendalam ketika kehilangan kucing tidak hanya dialami kaum Hawa saja. Pasalnya, seorang pria penyayang kucing bernama Jiwangga juga mengaku akan sedih jika hewan peliharaanya itu mati atau hilang.
“Kehilangan kucing kesayangan, ya jelas sedih lah,” ucap Jiwangga sembari berlalu seolah tak ingin ada pembahasan kucing hilang atau mati agar hal tersebut tak sampai kejadian beneran dalam kehidupanya.
Editor: Ahmad Muhlisin

