BETANEWS.ID, KUDUS – Pernah mendengar kata ‘Gogol Lungko’? Pastinya masyarakat Kudus, khususnya yang berada di Kecamatan Undaan tak asing dengan bisnis yang bisa menghasilkan cuan jutaan rupiah tersebut.
Saat musim kemarau seperti ini banyak masyarakat, khususnya di Kecamatan Undaan yang membutuhkan tanah untuk pengurukan di perkarangannya. Sebaliknya dari pihak yang mempunyai sawah pun juga butuh tanahnya diambil, supaya aliran air saat musim tanam bisa lancar dan tidak terhambat.
Baca Juga: Ahli Hukum Administrasi Negara Sebut Garank 1 Harusnya Segera Dilantik
‘Gogol Lungko’ merupakan bisnis musiman yang selalu ada setiap tahun dan sangat menguntungkan. Sebab dari makelar, pihak penyedia jasa angkut tanah ke pembeli itu tidak membutuhkan modal sama sekali.
Hal itu diungkapkan oleh salah satu sopir truk yang ikut bekerja dalam bisnis itu, Mulyadi (48). Menurutnya, bisnis ini sangat menguntungkan sekali, dan bahkan tidak membutuhkan modal. Lantaran pengambilan tanah dari sawah, lalu yang mempunyai sawah harus membayar ke pihak makelar, begitu pun juga dari pihak pembeli juga harus membayar.
“Sangat menguntungkan sekali, karena tidak modal sama sekali. Jadi bisa untung lebih, dari pihak pemilik sawah dan pembeli tanah ini. Ini yang punya sawah bayar sama bosnya, tahun kemarin satu bau bayarnya Rp1,5 juta,” ungkapnya saat ditemui, Selasa (15/8/2023).
Saat ini Gogol Lungko bisa menghasilkan uang bersih hingga Rp1 juta sehari. Sudah 7 musim Mulyadi melakukan pekerjaan tersebut.
“Kalau di sini baru sekitar satu mingguan. Sebelumnya juga melakukan di Grobogan kemudian pindah ke sini. Karena di sana peminatnya sudah menipis,” jelasnya.
Pria beralamat Desa Temon, Kecamatan Brati, Grobogan itu mengaku setiap harinya bisa mengangkut tanah ke pembeli antara 28 hingga 30 rit (mobil), dengan membawa sembilan kuli. Namun, karena kuli hanya berangkat empat orang saja, ia memperkirakan bisa mengangkut 20 rit.
“Hari ini ada empat orang saja yang berangkat, biasanya kalau sembilan orang itu bisa mengangkut hingga 30 rit sehari,” tuturnya.
Ia menjelaskan, untuk harga pembelian tanah ke pembeli, satu mobilnya dipatok dengan harga Rp120 ribu. Ia pun juga harus menyetorkan uang ke bosnya sekitar Rp20-30 ribu per mobilnya.
“Untuk area pengiriman, saya di Desa Berugenjang, Kalirejo, dan Lambangan,” imbuhnya.
Hal senada juga dikatakan oleh sopir lainnya yaitu Nur Huda. Ia mengatakan, meski pekerjaan tersebut harus membutuhkan biaya perawatan ekstra, namun hal itu tak jadi masalah. Sebab, hasil dari pekerjaan itu bisa lebih banyak, sehingga perputaran uangnya masih dirasa untung.
Baca Juga: Laris Manis, Omzet Pedagang Jeruk Pinggir Jalan Kudus Tembus Rp3 Juta Sehari
“Alasannya mumpung ada kesempatan, kemudian dari segi penghasilan lebih bagus ini dari pada pekerjaan serabut yang biasa mengangkut material. Meski mobil cepat rusak tapi hasilnya banyak,” jelasnya.
Huda menuturkan, dalam sehari ia bisa mengangkut 15 hingga 16 mobil dengan muatan tanah tersebut. Dengan area pengiriman di Desa Lambangan, Kalirejo, dan Medini.
Editor: Haikal Rosyada

