BETANEWS.ID, DEMAK – Memasuki kemarau, Dinas Pertanian dan Pangan (Dinpertanpangan) Demak menghimbau para petani untuk beralih ke palawija. Palawija yang dimaksud diantaranya, jenis tanaman kacang-kacangan, jagung, cabai, ubi, sorgum, dan lain-lain.
Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinpertanpangan Demak, Heri Wuryanta mengatakan, dua sumber mata air yang menyuplai persawahan di Kabupaten Demak mengalami penurunan debit air. Untuk itu, pihaknya meminta para petani agar tidak nekat menanam padi saat musim kemarau.
Baca Juga: Abrasi Parah, Desa Bedono Demak Justru Miliki Tutupan Vegetasi Mangrove yang Bagus
“Kalau di Demak itu kan sumber airnya ada dua dan itu ada di luar Demak, yaitu di Rawapening dan Waduk Kedungombo yang menjadi suplai air terbanyak di Demak. Saat musim kemarau pintu air ditutup,” katanya di kantor Dinpertanpangan Demak, Senin (7/8/2023).
Mengantisipasi hal itu, pihaknya menyarankan agar lahan pertanian di Demak ditanami dengan palawija. Menurutnya kondisi itu sudah disesuaikan dengan jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air.
“Untuk padi kan tidak cocok karena alirannya sudah ditutup, nah kita arahkan ke palawija. Saat ini yang terbanyak kacang hijau jadi kita sesuaikan dengan komoditas,” imbuhnya.
Baca Juga: Rumput Laut dari Purworejo Demak Sudah Ekspor ke Berbagai Negara
Tidak hanya itu, ia menyebut saat musim kemarau satu kali panen kacang hijau bisa mencapai ratusan kilogram. Sedangkan per kilogram kacang hijau dijual Rp 18 ribu.
“Kalau kacang hijau bisa panen 1,8 ton per hektare, tapi kalau di Demak rata-rata 1,2 ton per hektare,” sebutnya.
Editor: Haikal Rosyada

