BETANEWS.ID, JEPARA – Suara bising dari berbagai mesin langsung menyergap kuping saat memasuki area produksi rebana di Jalan Sreni Indah, Bategede, Nalumsari, Jepara. Di tempat yang cukup luas itu, beberapa perajin terlihat punya peran-peran masing-masing. Ada yang memotong kayu, merakit rebana, mengamplas, hingga bagian pengukiran dan pengecatan.
Di antara beberapa pengrajin itu, tampak seorang pria sedang duduk mengawasi pembuatan rebana. Dia tak lain adalah Wartono, pemilik mebel yang memproduksi alat rebana itu. Pengawasan itu terus ia lakukan demi menjaga kualitas dari mulai awal hingga menjadi sebuah produk siap jual.

Selama mengawasi pekerja, Wartono sudi berbagi cerita tentang usaha yang sudah berjalan kurang lebih 10 tahun itu. Di tempat itu, pihaknya bisa memproduksi hingga 4.000 unit dalam sebulan. Sementara dalam pembuatan satu set alat musik rebana habsyi berisi hadrah, bass, kaprak, bas tum, dan darbuka, membutuhkan waktu selama dua pekan.
Baca juga: Beduk dan Rebana Buatan Sugiharto Unggulkan Kualitas Suara dan Tahan Lama
“Produksi alat musik hadrah semua dilakukan di sini, mulai dari pemilihan kayu, pemotongan kayu, pembubutan rebana, pengukiran, hingga finishing. Biar saya tahu kualitas barang yang akan keluar,” terangnya saat ditemui, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, yang paling banyak dipesan kastemer adalah rebana hadroh habsyi (versi Habib Syech) yang setiap bulannya bisa terjual 50 set.
“Saat ini yang rame itu habsyi. Sebulan saya bisa melayani penjualan 50 set. Apalagi Bulan Rajab dan Maulud itu biasanya ramai-ramainya orderan,” ujarnya.
Baca juga: Pengrajin Rebana dan Beduk H Zaini di Demak Ini Sudah Tembus Pasar Asia Tenggara
Alat musik hadroh wartono dijual dengan harga bervariasi. Untuk satu set rebana hadroh habsyi mulai dari Rp4 juta hingga puluhan juta. Harga juga bisa menyesuaikan permintaan, mulai jenis, bahan dan ukiran.
“Penjualan paling rame itu ke daerah Jawa Timur, Jakarta, dan Bumiayu. Kalau yang dari luar Jawa itu Kalimantan dan Lampung,” beber Wartono.
Penulis: M. Faiz Anwar, Mahasiswa PPL IAIN Kudus
Editor: Ahmad Rosyidi

