BETANEWS.ID, SOLO – Halaman Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta penuh sesak oleh masyarakat. Tampak beberapa orang pria sedang sibuk mengaduk masakan di tiga buah dandang berukuran besar, dan ibu-ibu sedang menyiapkan daun pisang.
Rupanya, di sana tengah berlangsung acara pembagian Jenang Suran atau Bubur Sura, dalam rangka memperingati tanggal 10 Muharram atau Sura dalam kalender Jawa. bubur tersebut akan dibagikan kepada para jemaah dan warga masyarakat yang ada di sekitar sana.
Baca Juga: Begini Penjelasan Kejagung Soal Penyitaan Tanah di Benteng Vastenburg
Menjelang sore hari, warga pun mulai berkumpul di sebuah bangsal di bagian halaman Masjid Agung Surakarta. Mereka mengantre dengan tertib demi mendapatkan bubur Suran ini.
Berbeda dengan tradisi biasanya, kali ini Keraton Kasunanan Surakarta melalui Masjid Agung membagikan Bubur Suran ini kepada masyarakat yang ada di sekitar.
Kepala Takmir Masjid Agung Solo, Muhammad Muhtarom mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk melestarikan kebudayaan Islam di Tanah Jawa, khususnya dari para ulama terdahulu.
“Kita melestarikan peninggalan para ulama dulu di dalam dakwahnya, yaitu wujud syukur kita kepada Allah, kita masih diberi waktu dan kesempatan untuk menapak tahun baru,” katanya saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Tradisi mengolah bahan makanan menjdi Bubur Suran saat bulan Suro ini merupakan tradisi dari dalam Keraton. Namun, dengan digelarnya di luar Keraton ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa memang ada tradisi seperti ini yang harus dilestarikan.
“Ini kan bagian dari keraton juga, makanya kita pengen apa yang selama ini hanya secara personal atau lembaga keraton yang di dalam, kita ingin memberikan edukasi ataupun pemahaman kepada masyarakat bahwa Jenang Suran itu bagian dari adat istiadat kita, kekayaan kita yang harus dilestarikan,” tuturnya.
Bubur Suran ini diracik dengan menggunakan berbagai bumbu dan topping yang membbuatnya terasa lezat. Bubur ini juga semakin nikmat karena disajikan dengan menggunakan takir atau wadah yang diubat dari daun pisang yang dibentuk menjadi wadah kotak. Bubur ini disajikan dengan berbagai macam toping, seperti sambel goreng kerecek, kedeai hitam, telur suwir, perkedel kentang dan daun kemangi.
“Dengan berbagai bahan (komposisi) yang ada banyak, artinya maksud tujuan orang itu kan nggak sama, tujuannya 1 ya walau berbeda tujuan, tapi goalnya adalah 1 mendekatkan diri pada tuhan,” tuturnya.
Kali ini, ada sebanyak 1000 porsi Bubur Suran yang dibagikan kepada masyarakat. Dalam proses pembuatannya, panitia menggandeng warga masyarkat yang tergabung dalam Paguyuban UMKM Solo Raya. Ke depannya, Muhtarom mengatakan bahwa kegiatan pembagian Jenang Suran ini akan digelar secara rutin, setiap mengawali bulan Suro atau Muharram.
Baca Juga: Revitalisasi Keraton Solo Segera Digarap, Telan APBN Rp 35 M
Sementara, Ketua Parguyuban UMKM Solo Raya, Iman Buhairi Santoso mengatakan bahwa ada sebanyak 35 anggota paguyuban yang dilibatkan. Kebanyakan dari mereka merupakan pelaku usaha yang bergerak di bidang kuliner.
“Kita membantu melestarikan budaya dari Keraton yang menang mengkontak kami. Kami sudah persiapan 3 hari untuk mengumpullan tenaga damabelanja semuanya juga kita kerahkan. Bahan utamanya beras sampai 50 kilogram,” kata Iman.
Editor: Haikal Rosyada

