31 C
Kudus
Senin, Juli 22, 2024

Kisah Pilu Nenek Sebatang Kara di Margoyoso Pati yang Tinggal di Gubuk Reyot

BETANEWS.ID, PATI – Di samping sebuah gubuk yang terbuat dari bambu, Mbah Srinah (66) terlihat jongkok di dekat tungku kecil dari batu bata. Hari itu, ia sedang memasak bubur merah dan putih untuk memperingati pergantian tahun hijriah.

Sepanjang mata melihat, gubuk itu dikelilingi pohon pisang yang nyaris menutupi tempat mungil tersebut, sehingga dari kejauhan terlihat samar. Namun, lokasi yang ditempati Mbah Srinah merupakan perkebunan milik warga Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati.

Gubuk reyot milik Mbah Srinah di Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Foto: Kholistiono

Di sana, perempuan itu biasa tinggal di dua tempat yang jaraknya berdekatan. Siang hari, ia mengaku tinggal di gubuk dan malam harinya tidur di rumah kecil dengan ukuran sekitar 4X6 meter. Rumah itu tampak berdinding kalsiboard, sedangkan lantainya masih berupa tanah.

-Advertisement-

Baca juga: Kisah Pilu Nasidi, Gantungkan Hidup dari Jual Barongan Setelah Tinggal Sebatang Kara

Sementara untuk gubuk yang biasa ditinggali siang hari, bangunannya berbentuk panggung. Di dalam gubuk berukuran 2X1,7 meter itu terlihat ada kasur, bantal, dan beberapa pakaian lusuh milik Mbah Srinah.

“Kalau malam tidur di rumah Barat (sambil menunjuk), kalau di sini nggak berani. Tapi kalau siang di sini. Masaknya di sini,” ungkapnya saat ditemui, , Rabu (19/7/2023).

Tanpa diminta, ia pun bercerita kalau suaminya sudah meninggal lebih setahun lalu. Ia yang mengaku memiliki dua anak dan semuanya sudah berumah tangga itu mengatakan, dirinya sudah bertahun-tahun tinggal di tempat tersebut.

Ia mengungkap alasan dirinya lebih memilih tinggal di tempat itu, karena tidak enak bila ikut anaknya yang sudah berumah tangga. Saat ini, kedua anaknya sudah tinggal di luar daerah, salah satunya di Jepara. Namun, mereka tak mau tinggal di Tunjungrejo.

Mboten purun teng mriki, teng mriko mpun nde omah loro (Tak mau di sini, di sana sudah punya dua rumah), ungkapnya sambil menahan tangis.

Baca juga: Kisah Pilu Slamet, Penjaga Jembatan Timbang Katonsari Demak yang Tak Pernah Digaji Sejak 2017

Ia pun mengaku kalau setiap hari bisa makan. Bahkan, Mbah Srinah bercerita kalau uang yang ia pegang disimpannya dengan baik untuk belanja. Bantuan dari pihak desa untuknya, juga tidak terlewat. Ia mengaku Pemerintah Desa (pemdes) sudah baik memerhatikannya.

“Dapat, Pak, dibantu. Pak Bayan itu baik banget, Pak Ali (kades) juga,” ucap Mbah Srinah.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER